Bupati Kodi Mete Sayangkan Kejadian Pasola Bondo Kawango

  • Whatsapp

TAMBOLAKA KABARNTT.CO—Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, menyesalkan dan menyayangkan kejadian saat berlangsungnya acara ritual adat pasola di Bondo Kawango, SBD, Jumat pekan lalu. Pada acara itu, warga setempat menyerang petugas.

Bupati Kodi Mete mengatakan, aparat keamanan melakukan tugasnya untuk menjaga agar tidak terjadi kerumunan massa, mengingat saat ini sedang dilanda wabah virus corona.

Bacaan Lainnya

Diduga tidak menerima baik imbauan petugas untuk menaati anjuran protokol kesehatan.  masyarakat balik menyerang petugas dengan lemparan batu. Tak heran ada petugas yang terluka, kendaraaan Polres SBD juga rusak akibat lemparan batu.

Menyusul kejadian itu,  ada beberapa pihak menyalahkan pemerintah dan menilai pemerintah terkesan membiarkan kejadian itu.

Kepada media ini, Bupati Kodi Mete membantah dan menjelaskan duduk masalahnya.

Kodi Mete mengatakan, pasola adalah kegiatan budaya yang tidak bisa diintervensi oleh pemerintah.

“Pasola ini adalah kegiatan budaya. Kalau dianalogikan sama dengan kegiatan gereja (agama), tidak mungkin pemerintah melarang atau menutup kegiatan tersebut. Tugas pemerintah adalah memberi pemahaman kepada masyarakat berkaitan dengan kondisi covid saat ini,” ungkap Bupati Kodi Mete di ruang kerjanya, Senin (8/2/2021).

Lebih lanjut mantan Kadis Kesehatan NTT ini menjelaskan, berkaitan dengan pasola di masa pandemi ini, sebelumnya sudah diadakan pertemuan khusus dengan para rato adat  dan disepakati adanya pembatasan kerumunan dan lain-lain dengan protokol kesehatan (menjaga jarak, menggunakan masker serta mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer).

Untuk menghindari kerumunan massa, maka Instruksi Pemerintah dalam pelaksanaan pasola saat ini mewajibkan masyarakat yang hendak menonton memakai kain (pakaian adat Sumba), tidak boleh membawa barang tajam, semua harus memakai masker, pada saat  atraksi pasola kalau orang menonton harus menjaga jarak.

“Kita tidak bisa melarang penyelengaraan pasola karena ini adalah budaya, aset pariwisata kita. Jika kita melarangnya, kita tidak pernah tahu wabah Covid ini kapan selesainya. Kalau 20 tahun maka hilanglah budaya pasola dari Sumba,” tutur Kodi Mete.

Kodi Mete menambahkan, protokol kesehatan diperketat bukan untuk budaya, tetapi untuk memastikan kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aparat keamanan yang bertugas, yakni  TNI/Polri, Pol PP adalah perwakilan pemerintah dan perwakilan Satgas Covid-SBD.

“Masalah yang terjadi kemarin penyebabnya adalah adanya komunikasi yang korslet. Dan ini yang akan kita tindak lanjuti dengan rumusan yang ada, yang berlaku. Mudah-mudahan yang korslet itu akan kita temukan benang merahnya dan itu akan menjadi bagian dari pembelajaran masyarakat ke depan,” jelasnya.

Dirinya juga menyayangkan pihak-pihak yang menyalahkan pemerintah tentang kerumunan massa dan aksi warga menyerang petugas. Tugas mencegah dan memutus mata rantai penyebaran covid bukan tugas pemerintah saja tetapi tugas bersama untuk memberikan penyadaran masyarakat.

“Masalah covid kuncinya adalah kesadaran individu. Menuju kesadaran individu ini merupakan pekerjaan berat. Semua kita harus bekerja, bukan hanya pemerintah, jangan lagi memilah-milah pemerintah atau bukan pemerintah. Jika ada yang mengatakan pemerintah tidak ada kerja, itu orang yang tidak tahu diri,” tegas Kodi Mete.

Orang nomor 1  SBD ini berharap  tidak ada lagi penambahan kasus positif covid di SBD. Dirinya merasa bersyukur bahwa tempat pelaksanaan pasola bukan zona merah dan Instruksi  Pemerintah untuk tidak menonton atraksi pasola dipatuhi oleh sebagian warga masyarakat SBD, baik itu dari Wewewa maupun dari Kota Tambolaka.  (ota)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *