Menteri Perdagangan Dorong Produksi Garam di Nunkurus

  • Whatsapp

KUPANG  KABARNTT.CO—Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, SE, Jumat (24/7/2020) siang, mengunjungi areal tambak garam di Desa Nunkurus, Kabupaten Kupang yang dikelola  PT Timor Livestock Lestari Baru.

Didampingi Gubernur NTT,  Viktor Bungtilu Laiskodat, Wakil Bupati Kupang, Jery Manafe, dan sejumlah pejabat provinsi dan, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, tampak puas setelah melihat langsung prospek garam di Nunkurus.

Bacaan Lainnya

Kepada wartawan Agus mengatakan, pemerintah sangat berharap agar garam di NTT bisa membantu mengatasi impor garam secara nasional.  Karena itu Agus memberi apresiasi kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang bertekad mengembangkan garam di beberapa titik di NTT.

“Saya mengapresiasi kerja Pak Gub, Pak Viktor dengan tambak garam ini. Saya melihat potensinya baik, luar biasa dan sedang kita dorong agar terus dilanjutkan sehingga garam dari sini bisa mengurangi impor-impor,” kata Agus.

Agus mengaku sudah melihat langsung tambak garam di Nunkurus ini. “Saya lihat langsung di sini, bahwa ini adalah potensi produk nasional kita. Saya harapkan agar satu ke depan produksi di sini ditingkatkan. Saya senang dengan Pak Viktor dengan kerja-kerja seperti ini, karena itu saya tinjau langsung. Terima kasih Pak Gub, ” kata Agus.

Agus menjelaskan kebutuhan nasional akan garam sangat tinggi. “Dalam setahun kita butuh garam sebanyak 4,3 juta ton. Paling banyak garam itu untuk kebutuhan industri, kebutuhan untuk konsumsi sedikit saja hanya sekitar 300 ribu ton. Karena itu kita harapkan dari sini bisa membantu mengurangi impor-impor secara signifikan,” kata Agus.

Areal tambak garam di Nunkurus ini direncanakan seluas 600 hektar. Sejauh ini yang baru digarap baru 60 hektar.

Kien, salah seorang staf dari PT Timor Livestock Lestasi, mengungkapkan meski baru sekitar 10 persen dari total lahan yang direncanakan. Produksi awal sudah dikirim ke Surabaya Agustus tahun lalu.

“Kita baru produksi 10 persen dari total lahan seluas 600 hektar,” ujar Kien.  (den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *