Kenormalan Baru untuk Keadaban Publik

  • Whatsapp

Oleh : Kus Aliandu

 

Wabah Covid-19 sudah berlangsung beberapa bulan ini. Dampak yang diberikan sungguh luar biasa. Tidak saja pada aspek kesehatan, tapi juga menghantam ekonomi, politik, keamanan, dan terlebih mempengaruhi perubahan sosial dan masyarakat.

Untuk itulah, berbagai kebijakan, program, dan langkah diambil dan diterapkan. Selain penanganan penyembuhan pasien yang terpapar virus berbahaya ini, pun pula serangkaian kebijakan berturut-turut telah diterapkan secara menyeluruh. Sebut saja, bekerja dan belajar dari rumah (WFH, SFH), jaga jarak (physical-social distancing), pembelajaran jarak jauh (PJJ), pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Kini digaungkan kebijakan kenormalan baru (new normal). Kenormalan baru dilakukan sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin dengan beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan Covid-19.

Pertanyaannya, apakah kenormalan baru ini terbatas pola hidup untuk mengatasi Covid-19? Bagaimana kita memaknai kebijakan kenormalan baru ini untuk peradaban kita?

Peradaban Baru

Badai pasti berlalu. Setelah badai, pasti muncul pelangi. Setiap masalah atau kesulitan hidup pasti akan berkurang dan akhirnya hilang. Itu pesan untuk memberikan kekuatan agar tidak jatuh terpuruk. Tapi ada yang tak kalah penting, yakni di balik setiap krisis, ada makna, hikmah dan ini mesti digali dan ditemukan agar tumbuh harapan untuk berlangkah maju.

Harus diakui, wabah Covid-19 memang memberi keprihatinan dan mengakibatkan krisis, tapi sekaligus sesungguhnya memunculkan harapan. Bahwa kebangkitan acapkali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Katastrofi itu ibarat ibu hamil yang mengandung anak kemajuan, ada harapan tersembunyi di baliknya. Harapan bukanlah sekadar optimisme yang berlandaskan pada ideologi yang seringkali mengklaim mampu memecahkan atau memberi jalan keluar segala masalah. Harapan justru dilandaskan pada keyakinan iman bahwa Tuhan mengarahkan umat manusia dan seluruh ciptaan untuk hidup dalam suatu tatanan yang memancarkan kebaikan.

Berharap berarti mengembangkan pemikiran, tindakan kreatif, serta cara hidup baru. Dalam konteks ini, sangat mendesak untuk dilaksanakan penataan kembali kehidupan bersama, sehingga dapat bersama-sama membentuk keadaban publik baru. Masa depan kehidupan bersama yang sehat, sejahtera, beradab memang memerlukan pembentukan keadaban publik yang berlaku bagi semua warga masyarakat. Krisis akibat Covid-19 saat ini, seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum untuk perubahan, untuk memperbaiki pola hidup dan kehidupan bersama dalam segala aspeknya. Yang terpenting, situasi ini menyadarkan kita akan kelemahan dan memberikan alasan kuat untuk bangkit dan memulai hidup dengan peradaban baru, keadaban publik.

B Herry-Priyono (Kompas, 31 Desember 2004), mengajak kita untuk menyadari panggilan untuk membaharui kehidupan dan membangun peradaban. Ambillah waktu sejenak mengamati lalu lintas kita. Lampu lalu lintas berwarna merah adalah tanda bahwa kita harus berhenti. Tapi tetap saja ada yang nyelonong, menerobos dan tetap melaju.

Ada berapa banyak orang yang menyalakan lampu jarak jauh yang menyilaukan dan mengganggu pengendara yang berlawanan arah. Berapa banyak orang yang mengganti knalpot mobil atau sepeda motor agar bunyi gagah dan meraung-raung, dengan akibat membisingkan telinga? Tidak sedikit anak muda yang menjadikan jalan raya di dalam kota sebagai sirkuit balap motor atau mobil, sehingga orang lain terpaksa minggir.

Daftar contoh ini bisa diperpanjang dan bisa pula diperluas ke arena kehidupan lain, sebut saja soal antrean, berjualan di trotoar atau mengambil sebagian badan jalan, dan sebagainya. Ini dilakukan warga kaya atau miskin; orang berpendidikan atau tidak bersekolah.

Dari contoh itu segera tampak mengapa aneka persoalan besar seperti korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan tidak mengalami penurunan yang berarti. Dengan mudah kita mengulangi penjelasan bahwa itu semua karena penegakan hukum yang lemah. Penjelasan itu bukannya salah, tetapi makin lama makin terdengar sebagai klise. Ia klise lantaran membuat kita tumpul dan lebih penting lagi membuat kita  tidak mencoba rute baru perubahan.

Maka kenormalan baru (new normal) terkait pandemi Covid-19 setidaknya bisa menjadi momentum harapan untuk  bangkit dan bergerak ke arah ‘eksperimen’ perubahan, ke arah peradaban publik yang sungguh kasat mata.

Eksperimen itu mencakup banyak agenda dan menjangkau luas ke berbagai tatanan kehidupan bersama. Barangkali pola hidup baru dan gaya hidup sehat dengan protokol kesehatan bisa dijadikan titik awal dan pintu masuk untuk terbangunnya peradaban baru itu.

Perubahan  ke arah pola hidup baru ini mesti menjangkau semua segi kehidupan. Tidak hanya terbatas untuk mencegah dan mengatasi pandemi convid-19. Dalam garis ini, pola hidup baru mesti bermuara pada terbentuknya peradaban baru.

Dengan membangun dan mengembangkan new normal,  akar-akar yang menyebabkan korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan dan penyelewengan kekuasaan, ketidakdisiplinan dan ketidakjujuran dalam mengerjakan proyek, dan sebagainya, diharapkan dapat diatasi dan secara bertahap keadaban publik terbangun dan kesejahteraan umum terwujud.

Habitus Baru

Pilihan untuk membangun dan mengembangkan peradaban baru bukanlah pilihan yang mudah, karena ternyata mesti bermuara kepada terbentuknya budaya (habitus) pribadi. Perilaku memakai masker saat bepergian, gaya hidup sehat, serta berbagai aktivitas dengan tuntunan protokol yang ketat, sesungguhnya harus berasal dari dalam diri dan menggerakkan orang untuk memilih dan mengembangkan semua itu.

Pola pandang dan perilaku yang baru (new normal) harus tumbuh dan berkembang dari hati nurani tiap orang. Tanpa ini, peradaban baru tidak akan pernah menjadi kenyataan. Hati adalah pusat diri. Kematian hati nurani adalah akar dari segala kehancuran. Tanpa hati nurani, kesejahteraan umum tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Habitus dalam arti tertentu bisa diterjemahkan sebagai ‘kebiasaan’ (Inggris : habit) dan dimaknai sebagai “gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok” (Nota Pastoral Sidang KWI, November 2004).

Kadang-kadang kata habitus diterjemahkan menjadi watak dan juga karakter, yang berarti keseluruhan keadaan dan cara bertindak terhadap suatu rangsangan. Watak terus berkembang dalam masa kehidupan seseorang. Watak ini berkaitan dengan fungsi saraf pusat. Watak juga dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti lingkungan, pengalaman dan pendidikan (Hubertus Kasan Hidayat, DSJ, Gangguan Kepribadian Dan Perilaku Masa Dewasa, Catatan Kuliah Ilmu Kedokteran Jiwa, 1998).

Insting bukanlah dalam arti naluri yang sudah tertanam dalam diri manusia dan tidak bisa diubah, melainkan yang dimaksud adalah kemampuan bereaksi yang kurang lebih spontan dari manusia terhadap suatu masalah yang akan menjelma dalam seluruh sikap dan tindakannya. Insting ini dibentuk melalui suatu proses yang relatif panjang. Maka kata gugus menunjukkan adanya kesatuan dari beberapa elemen pembentuknya, yang diandaikan saling terkait erat dan saling dukung, serta ada konsistensi di dalamnya.

Elemen–elemen itu antara lain sikap dasar terhadap Tuhan, terhadap diri, terhadap manusia, terhadap masyarakat, terhadap pemerintah, terhadap dunia pendidikan, terhadap alam lingkungan, dan sebagainya. Masing-masing elemen sikap itu ada dalam diri manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok, dan akan menjadi habitus bila saling terkait dan tidak saling kontradiktif atau saling meniadakan, lalu mendasari cara bereaksi terhadap masalah yang dihadapi, baik secara emotif (rasa-perasaan), maupun secara kognitif (pemahaman) dan motoris (tindakan).

Habitus ini punya kaitan timbal baik dengan keadaban publik. Pertama-tama, perhatian terhadap keadaban publik menjadi salah satu elemen dasar habitus yang mau dibentuk. Maka, kalau dikatakan bahwa “keadaban publik harus menjadi habitus baru bangsa ini”, hal itu berarti bahwa keadaban publik, yang selama ini ditengarai kurang menjadi perhatian bersama, secara sadar perlu dimasukkan dalam habitus baru.

Dengan kata lain, habitus lama keadaban publik dilupakan bahkan ditinggalkan, dan dalam habitus baru, keadaban publik dijadikan inti dan cakrawala habitus baru. Di situ menjadi jelas bahwa upaya untuk mewujudkan keadaban publik baru itu pun pada gilirannya akan membentuk habitus baru. Dan elemen dasar habitus baru adalah kepentingan bersama atau kebersamaan hidup sebagai masyarakat, bukan sekadar kepentingan yang bersifat individual.

Dengan kenormalan baru (new normal), perilaku mencuci tangan dan menggunakan masker yang dulunya terbatas di dunia rumah sakit dan poliklinik, kini diwajibkan agar dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat di berbagai bidang tanpa terkecuali.

Gaya hidup sehat yang dulunya kurang diperhatikan, kini digalakkan, seperti makan makanan bergizi,  melakukan aktivitas fisik dan olah raga rutin, menjalani istirahat yang cukup, berpikir yang positif, dan masih banyak lagi. Wabah convid-19 telah memaksa berbagai pihak, mulai dari sekolah, perkantoran, rumah ibadah, dunia bisnis bertransformasi digital dengan memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai aktivitas yang sebelum ini dilakukan secara manual, kini dilakukan dengan pola baru yang didukung oleh kemajuan teknologi. Sebut saja, ibadah agama secara live streaming, belanja on line, web-seminar (webinar), rapat dengan memanfaatkan aplikasi zoom. Daftar pola hidup baru ini bisa diperpanjang dan memerlukan kontinuitas dan kesungguhan dalam penerapannya agar terbentuk habitus baru pada diri semua warga. Habitus mana tidak terbatas dalam menghadapi dan mengatasi wabah, melainkan juga untuk mencegah dan memberantas kemungkaran, membangun tatanan baru kehidupan bersama yang lebih bermartabat dan beradab.

Dalam konteks ini ada 2 (dua) hal yang perlu mendapat perhatian. Pertama, kepentingan bersama, kesejahteraan umum, keselamatan bersama (bonum communae), hendaknya menjadi elemen dasar yang melandasi gerakan kenormalan baru. Semua warga harus menyadari bahwa kewajiban untuk menjalani berbagai aktivitas dengan arahan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker saat ke pasar atau ke mal atau ketika bertamasya ke pantai, mencuci tangan dengan air atau hand sanitizer; berbaris antri teratur dan menjaga jarak, bukanlah melulu demi kesehatan dan keselamatan dirinya pribadi, melainkan terlebih demi kepentingan bersama. Dalam kerangka ini, bonum commune harus menjadi landasan pijak kerangka acuan pendidikan dan sosialisasi; mesti menjadi topik kampanye, tagline yang menggema di mana dan kapanpun.

Kedua,  kenormalan baru hendaknya menjadi eksperimen perubahan. Kawanan hewan adalah kerumunan yang hanya akan bergerak apabila ada bukti perubahan di depan mata. Kata “di depan mata” bisa dipahami secara harafiah. Jika kita seperti itu pula, mungkin ada baiknya dalam masa kenormalan baru ini, kita membuat eksperimen perubahan yang sungguh kasat mata. Karena lompatan besar pertumbuhan ekonomi akan memakan waktu lebih lama. Begitu pun usaha penegakan hukum dan menjadikannya sebagai panglima. Kasus wabah Covid-19 yang mengharuskan kita untuk menjalankan protokol kesehatan bisa menjadi bidang potensial bagi eksperimen perubahan yang menarik. Andaikata kita semua terima dengan sepenuh hati dan menjalankannya, niscaya terbangun sebuah gerakan yang indah dan menggetarkan ke segala bidang. Kita menggunakan masker untuk melindungi diri dari virus corona dan tergugah menggunakan  masker sebagai pelindung dari virus untuk memperkaya dan memakmuran diri. Kita terbiasa mencuci tangan, bukan sekedar membersihkan diri; melainkan juga untuk memurnikan hati. Kita mulai membiasakan diri berinteraksi dengan berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga terbiasa untuk tidak menghabiskan anggaran untuk kunjungan kerja, studi banding. Kita menjaga jarak agar tidak terjangkiti dan menjangkiti virus corona dan berbagai virus lain yang menyebabkan kehidupan bersama menjadi terganggu.

Rohaniwan, tinggal dan bertugas di Padang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *