Keluarga Katolik: Tiang-Tiang Dasar Gereja, Umat Allah

  • Whatsapp

(Beberapa Pokok Pikiran pada Pesta Keluarga Kudus)

 Oleh : P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Gereja tanpa kehidupan keluarga, amat sulit sulit terpikirkan. Ini bukan saja soal menyangkut jumlah umat Gereja yang tentu berkaitan langsung dengan jumlah anggota keluarga. Tetapi bahwa kualitas kehidupan Gereja secara umum tergantung langsung-lurus-intim dari panorama ziarah keluarga itu sendiri. Di dalam keseharian hidup. Setidaknya terdapat dua ungkapan kunci untuk menggambarkan Keluarga Katolik. Pertama, Keluarga Katolik sebagai miniatur Gereja Universal (Gereja Mini) dan Keluarga Katolik sebagai Domus Fomata (Rumah Pembentukan) yang berkaitan terutama dengan iman dan nilai-nilai Injili.

Para Bapa Konsili Vatikan II (Gravissimum Educationis) dan juga Paus Yohanes Paulus II (Christifideles Laici dan Familliaris Consortio) amat berpeduli akan formasi indentitas, karakter, jati diri, atau juga disebut autoritas (kewibawaan) yang mesti tampak dalam Keluarga-Keluarga Katolik.

Terdapat 4 aspek mendasar yang menjadi kewibawaan satu Keluarga Katolik:

  1. Kewibawaan Spiritual (Rohani)

 Ini amat berkaitan dengan kualitas relasi keluarga dengan Tuhan. Berkaitan dengan lingkup doa, devosi-devosi, dan terlebih perayaan ekaristi. Menjadi Famillia Orans (keluarga yang berdoa). Ini juga berkaitan keluarga yang disemangati oleh Kitab Suci (Sabda Allah). Menjadi Keluarga yang berakar dan hidup dari pemberitaan Sabda Allah (Famillia Kerygmata). Tugas orangtua: menjadi contoh dan motivator bagi anak-anak untuk berdoa, membaca Kitab Suci, kesetiaan pada Perayaan Ekaristi. Nb: sekarang ini anak-anak lebih hafal nama-nama artis, pemain sepak bola ketimbang tokoh-tokoh dalam Kitab Suci. Kita jangan kehilangan nafas rohani dari Kisah-Kisah dalam Kitab Suci.

Juga kewibawaan spiritual tampak dalam pemahaman yang kokoh akan ajaran-ajaran pokok Gereja berkenaan dengan iman Katolik, misalnya iman kepada Trinitas, apa itu iman-harapan-kasih, keunggulan devosi kepada St Perawan Maria.

  1. Kewibawaan Moral (kebajikan)

 Dalam Keluarga Katolik disarikan dan dihayati kebajikan-kebajikan (virtus) unggulan. Agar para anggotanya, terutama belajar menjadi sensitif akan nilai-nilai dasar moral kristiani. Kasih, sukacita, kebenaran, damai, pengampunan, kerjasama, solidaritas, keterbukaan terhadap yang lain, kejujuran, belaskasih, kesabaran, kesetiaan, kesederhanaan, dan kerendahan hati.

Karena itu pendidikan nilai mesti menjadi syarat dasar. Orangtua dalam rumah tangga punya tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak, mewariskan nilai-nilai itu serta terutama menjadi teladan dalam kesaksian.

  1. Kewibawaan Pastoral (aspek penggembalaan)

 Aspek ini amat bersentuhan dengan visi-misi-komitmen Keluarga Katolik. Itulah yang dimaksud dengan keluarga yang orientatif, yang memiliki arah perjalanan menuju cita-cita! Janji perkawinan, misalnya, tidak hanya merupakan satu proklamasi: Mulai hari ini sebagai istri atau suami saya….!!! Tetapi hal ini terlebih berkenaan dengan orientasi untuk bagaimana harus menjadi suami atau istri hingga akhirnya. Atau sebagai orangtua bagi anak-anak: di mana dan bagaimana pegangan orientatif sebagai orangtua?

Secara praktis mau dikatakan bahwa: suami adalah gembala dari istri! Istri adalah gembala suami! Suami dan istri sebagai orangtua adalah gembala bagi anak-anak…

Di baliknya ada tiga hal mendasar dan praktis:

  • Jaga dan hormati diri sendiri dalam status sebagai…… Istri adalah perempuan bersuami; suami adalah laki-laki beristri (relasi eksklusif suami-istri.
  • Suami dan istri harus saling menggembalakan: mendukung dalam hal kebaikan, saling mengingatkan (menegur) dalam hal yang keliru atau salah.
  • Orangtua punya tanggung jawab bagi hidup anak-anak. Berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar (makan minum, rumah, pakaian, kesehatan, pendidikan) dan juga menciptakan atmosfer yang sehat dalam rumah! Agar janganlah putus asa, kecewa, sakit hati, memberontak dll muncul tiap hari dalam rumah. Misalnya ada ironi seperti berikut: sekelompok anak muda nyanyi tengah-tengah malam, bikin ribut di saat warga lain telah tidur malam. Dan lagu yang dinyanyikan: Lebih baik di sini. Rumah Kita sendiri…, mirisnya dinyanyikan tengah malam, dan di pinggiran jalan umum! ‘Apakah rupanya pinggir jalan dan tengah malam itu telah jadi tempat dan muara irama hidup mereka?’

Aspek kewibawaan Pastoral ini mesti didukung oleh: Kasih, kesetiaan dan juga pengorbanan….

  1. Kewibawaan Missioner: Perutusan

Menjadi keluarga Katolik yang diutus dalam kehidupan pada umumnya. Ini berkaitan dengan implementasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan nyata. Dalam perelasian dan perjumpaan dengan sesama dan dunia. Keluarga Katolik itu berciri inklusif, terbuka, mengarah kepada kepentingan atau kesejahteraan umum.

Dalam Injil diungkapkan sebagai keluarga yang menghayati hidup sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-16).  Kata Yesus bagi para murid: “Demikian orang akan mengakui bahwa kamu adalah murid-muridKu, jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 1335). Kita ingat juga akan kisah perutusan para murid, yang juga ingatkan kita akan perutusan kita sebagai keluarga katolik!!

Bukan hanya kaum berjubah atau bertudung yang diutus. Tetapi juga keluarga-keluarga Katolik.

Perjumpaan keluarga dengan masyarakat semesta pada masa sekarang ini sudah tak terhindarkan! Kita harus akui bahwa dalam perjumpaan-perjumpaan ini adalah apa disebut dinamika atau proses saling serap!! Artinya bahwa Gereja dalam diri keluarga tetap hadir dalam berbagai macam arena perjumpaan, tetapi pada saat yang sama ia pasti mengalami tantangan badai-badai zaman yang nyata dalam cara berpikir, mental, sikap dan tindakan, serta serta terutama pola hidup.

Istilah-istilah harian yang dianggap sederhana dan biasa tetapi sebenarnya mengandung kegawatan dan kedaruratan. Misalnya istilah zaman now’Wah, bapa itu sudah beristri, tapi macamnya berselera dan berpenampilan bujangan.” Lantas ditanggapi biasa, “Ya, begitulah bapa-bapa zaman now!’’

Para ibu juga misalnya dalam tampilan tak mau kalah dengan anak-anak gadis mereka. Lalu dibilang, “Ini namanya ibu-ibu zaman now”.

Juga anak-anak kita, bila diperhatikan: irama hidup bisa berantakan, kurang semangat, tiada tanda-tanda perjuangan, apalagi untuk kerja keras. Bila ditanya, “Kenapa bisa begini?” maka jawabannya, “lagi galau”.

Hati-hatilah, dalam masyarakat sudah muncul generasi galau  ketimbang generasi yang memberi tanda-tanda harapan akan masa depan. Karena itu OMK, Sekar Sekami haruslah kuat untuk menjadi salah satu wadah pengusir rupa-rupa kegalauan.

Banjirnya film-film atau sinetron juga bisa jadi tantangan tersendiri! Misalnya saja banyak sinetron menghadirkan kisah-kisah balas dendam. Kita penonton, juga rasa puas dan tidur nyenyak, bila ada adegan balas dendam terjadi. Artinya yang jahat, musuh harus dibalas dan dimusnahkan… Kita tak pernah sadar bahwa kita adalah orang Kristen. Yesus ajarkan: jangan membalas, berdoalah bagi musuh-musuh. Cerita-cerita Injil yang damai dan rukun, pengampunan mesti berhadapan dengan kenyataan hidup yang ditayangkan lewat film, fragmen-fragmen yang menantang! Ini tugas terutama guru-guru, para katekis, dan tentu saja para orangtua.

Tetapi pada intinya: Kita selalu berjuang agar keluarga Katolik itu bermartabat, bercitra, memiliki identitas, berkarakter, ada jati diri yang sehat! Atas dasar Iman, moral Gereja, tugas Pastoral dan missi Perutusan.

Verbo Dei Amorem Spiranti

 Roma, 26 Desember 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *