Hujan Deras, Jalan di Desa Nuaja, Ende Longsor, Jalur Transportasi Putus

  • Whatsapp

ENDE KABARNTT.CO–Hujan deras yang mengguyur  wilayah  Kecamatan  Ende, Selasa (3/11/2020) lalu, mengakibatkan ruas jalan di Desa Nuaja longsor.  Jalur transportasi jalur Nangaba menuju Wologai terhenti.

Kepala Desa Wologai 2, Kecamatan Ende, Valentinus Doa, ditemui Kamis(5/11/2020) di Kantor Dinas PUPR Ende mengatakan, bencana longsoran material  terjadi  itu akibat guyuran hujan yang lebat disertai angin kencang selama kurang  lebih 3 jam.

Bacaan Lainnya

Hujan dan angin kencang tersebut, kata Doa, mengakibatkan longsoran berupa material  yang menutupi  beberapa  titik badan  jalan  di jalur  itu. Karena itu akses transportasi mulai dari wilayah Desa  Nuaja, Desa Wologai hingga Kecamatan Maukaro untuk sementara putus total. Dan beberapa desa seakan terisolasi.

Doa menyebutkan ,ada beberapa titik badan jalan yang rusak akibat hujan deras yang terjadi antara lain  di lokasi Lowo Poa, dengan kondisi tumpukan  material akibat longsor memenuhi badan jalan.

Titik kedua di Lowo Zonga dengan kondisi badan jalan dan deker   rusak berat. Titik ketiga di wilayah perkampungan Desa Wologai dengan tumpukan material yang memenuhi badan jalan.

“Selain di tiga  titik  itu, tumpukan material juga terdapat di beberapa  titik tetapi tidak separah di tiga  titik  itu,” kata Doa.

Menurut Doa, hingga saat ini  belum ad tindak lanjut atau respon dari pemerintah khususnya dinas terkait yang turun  ke lokasi untuk melakukan penanganan ataupun pembersihan.

“Hari ini kami datang ke Dinas PUPR untuk melaporkan secara resmi soal bencana tersebut,” ujar Doa.

Doa menambahkan, dampak yang terjadi adalah akses transportasi masyarakat di tiga desa terhenti dan beberapa desa terisolir.

Senada dengan itu, Kepala Desa Wologai 1, Andreas Ba’u, juga berharap agar secepatnya Pemerintah Kabupaten Ende menangani bencana tersebut. Karena dengan begitu akses transportasi bisa segera pulih kembali.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bancana Daerah kabupaten Ende, Sebas Bele, mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan resmi dari pemerintah setempat .Namun dia mengakui,sudah memonitor lewat media sosial  soal terjadinya longsoran yang menyebabkan tiga desa terisolir.

“Kita belum dapat laporan resmi, namun kita sudah tahu lewat pemberitaan di media sosial. Soal penanganan seperti apa kita akan lakukan koordinasi dengan PUPR secepatnya,” ujar Sebas Bele.

Kepala Dinas PUPR Ende, Frans Lewang, saat ditemui di kantornya mengatakan, setelah mendapat laporan terkait adanya bencana runtuhnya tebing yang menyebabkan bertumpuknya material di jalan pihaknya langsung menuju lokasi.

“Kabid Bina Marga langsung ke lokasi lihat kondisi jalan tersebut. Ada beberapa titik yang runtuh, namun yang terparah di daerah Aumali,” ujarnya.

Lewang mengatakan, beberapa titik bisa ditangani lewat gusuran menggunakan alat berat, namun yang paling penting ada tebing yang mesti dilakukan bronjongnisasi karena jika tidak maka badan jalan akan jatuh.

“Ada satu titik yang harus kita buat bronjong. Karena longsoran tebing sudah memakan hampir semua badan jalan,” ujar Lewang yang menyebutkan kurang lebih 20 meter harus dibuat bronjong.

Lanjut  Lewang, beberapa titik bisa dilakukan penggusuran namun menjadi kendala tidak ada tempat pembuangan material.

Disebutkannya jika dilakukan pembuangan sekitar lokasi bisa menekan biaya dan semakin singkat waktu penanganan.

“Kalau muat pakai kendaraan truk makan biaya dan waktu akan lebih lama. Karena  itu saya minta kepala desa bisa komunikasi siapkan lahan untuk buang material,” ujarnya. (ase)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *