Aku Terkenang John Prior, SVD

Oleh Tony Kleden

Medio tahun  1988. Kami, para frater dan bruder tarekat SVD pindah ke Flores. Sudah satu tahun sama-sama  menjalani  masa pembinaan rohani di Novisiat SVD St. Yosep Nenuk, Atambua.  Kami angkatan pertama Novisiat SVD St. Yosep Nenuk.

Bacaan Lainnya
tonykleden

Kami para  frater ke Ledalero. Para bruder ke Ende. Di Ledalero kami melanjutkan masa novisiat tahun kedua sekaligus  memulai masa perkuliahan. Mengenal filsafat. Dari sejarah hingga ajaran para filsuf. Mendengar ajaran Bapa-Bapa Gereja.  Memahami logika. Mayor dan minor. Membaca kitab suci.  Mendengar  tafsirannya sambil melihat konteks.

Belum sampai sepekan di bukit sandar matahari itu, suatu sore lewat seorang asing di depan asrama novisiat di gerbang masuk Ledalero.  Mengenakan celana pendek.  Kaos leher bundar tipis membalut tubuh kekarnya. Sepatu kets ketat di kaki. Mengayu sepeda sportnya, dia seperti seorang pebalap profesional.

Orang asing itu melempar senyum khasnya kepada kami. Beberapa frater novis membalas. Menyapanya dalam bahasa Inggris.

“Baru beberapa hari di sini, gara-gara sapa saya pakai bahasa Inggris.” Begitu yang kami dengar dari para frater filosofen dan teologan apa kata Pater John Prior, SVD tentang para novis yang baru menghuni Ledalero.

Jelas kami salah sasaran. Menegur penghuni lama Ledalero dalam bahasa Inggris. Bahasanya sendiri. Selang  beberapa minggu kemudian, John Prior dapat  giliran pimpin misa sepekan di Kapela Novisiat.

Wah, bahasa Indonesianya jauh lebih baik.  Artikulasinya sangat jelas. Konsentrasi dan khusuk mempersembahkan misa.

John Prior tidak memperkenalkan dirinya. Dia membiarkan kami mengenalnya sendiri. Dan kami kemudian mengenalnya dengan lebih baik  di ruang kuliah.  John mengampu mata kuliah metodologi penelitian. Belakangan dia membagi ilmu sosiologi dan teologi kontekstual.

Kecuali sepatu olahraga, selama 8 tahun di Ledalero saya belum pernah melihatnya memakai sepatu resmi dan berpakaian necis.  Baik di gereja maupun di ruang kuliah. Sandal jepit tipis menjadi alas kakinya.   Di gereja kalau ada doa atau misa,  John  selalu duduk di belakang. Lebih sering dia duduk bersilah. Melipat kedua kakinya. Buku alkitab selalu di pangkuannya.

Berbeda dengan kita yang lain, yang merawat alkitab penuh tanggung jawab, John suka melipat, mencoret lembaran-lembaran alkitabnya.  Dia baca dari depan, dari Kitab Kejadian, hingga Kitab Wahyu di bagian paling akhir. Hampir semua halaman penuh dengan coretan-coretan. Selesai baca, John ganti lagi dengan alkitab baru.

Suatu kesempatan saya protes. “Itu kan kitab suci, isinya firman Allah. Kenapa diperlakukan dengan cara yang tidak santun seperti itu? Kenapa harus dicoret-soret dan jadi kotor?”

John menatap saya serius. Matanya tajam. Tanpa senyum. “Yang saya coret itu kertas saja, bukan firman Allah. Saya mau menyelami firman Allah. Kalau penuh coretan wajar saja. Dari pada bersih, licin karena jarang dibuka dan dibaca,” katanya enteng.

John memang membaca dengan teliti dan menyelami isi kitab suci dengan baik. Memahami konteksnya juga dengan sangat baik. Tak heran, kotbahnya sarat pesan biblis.

Dalam keseharian, John selalu tampil beda. Di luar pakem yang sudah lazim. Dia bukan imam  yang suka jaga penampilan yang necis dan rapi. Dia tampil apa adanya. Kadang-kadang celana pendek.  Banyak tamu mengiranya bule yang berkunjung ke Ledalero.

Materi kuliah dan terutama materi ceramahnya tajam dan menukik. Sering juga menggugat. Menggugat kemapanan. Dia ingin isi kitab suci dibaca dalam konteks hari ini. Tepat dia dikenal sebagai teolog dengan perhatian besar pada teologi kontekstual.

Perhatiannya pada teologi kontekstual inilah yang membawanya tampil di ruang kuliah dan seminar  di mana-mana. Di Indonesia, juga di luar Indonesia. Referensinya sangat kuat. Itu hanya terjadi karena dia kutu buku. Lebih dari separuh waktunya sehari dihabiskan untuk membaca.

Secara pribadi saya cukup dekat dengan John.  Di semester tujuh saya menulis skripsi dengan judul Kebebasan Manusia dan Tanggung Jawab Moral. Dia protes tema skripsi ini.

“Itu abstrak sekali. Apa yang kamu dapat pelajari dan petik hikmah dari tema itu? Cari dan tulis yang kontekstual, yang ada guna gananya saat kamu ada di tengah umat,“  kritikya.

Saya jalan terus. Tetap dengan judul skripsi itu. “Ah, skripsi ini kan pro forma saja. Saya ingin selesai sebelum ke tempat praktek.” Saya tidak mau kalah.

Demikianlah, saya  ujian skripsi sebelum ke tempat praktek di SKM Dian Ende medio 1992.

Di tempat praktek di Ende, prahara datang. Gempa tektonik menggoyang Flores, 12 Desember 1992. Gempa dahsyat itu mengguncang bumi.  Merenggut nyawa ribuan orang. Mrobohkan bangunan dan kemudian meratakannya dengan tanah.  Tetapi gempa itu  juga ikut mengguncang panggilan banyak dari antara kami.

Medio 1993 saya kembali ke Ledalero. Ledalero yang megah itu sekarang tinggal puing-puing. Porak poranda. Barak-barak dibangun  menggantikan asrama para frater.  Perkuliahan dipindahkan ke barak-barak yang dibangun di kompleks Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Saban pagi mesti jalan kaki ke tempat kuliah. Ini  membosankan. Juga melelahkan. Saya mulai ogah ke tempat kuliah. Apalagi semua mata kuliah wajib dan pilihan sudah tuntas. Sudah lulus.

Membunuh kebosanan, saya lebih sering mampir di kamar John. Cerita-cerita saja. Dari yang ringan-ringan hingga yang bikin pening kepala.

Suatu hari John ambil satu bundelan tebal. “Ini, tolong kamu baca. Sesudah itu terjemahkan beberapa bagian yang sudah saya beri tanda,” katanya.

Saya buka beberapa halaman. “Wah, ini tentang adat perkawinan orang Lio. Saya tidak suka baca ini,” saya menolak.

Saya tidak tahu apakah naskah itu disertasinya atau makalah panjang yang ditulisnya.

John menatap saya dengan tajam. Saya tahu dia kecewa. Karena dia butuh waktu lama melakukan penelitian lapangan untuk menulis naskah itu.

Tidak mau mengecewakannya, saya membawa naskah itu ke kamar. Membacanya dan menerjemahkan beberapa bagian yang diberi tanda.

Saat memutuskan untuk meninggalkan Ledalero tahun 1994, saya menemuinya di kamar.

“Saya sudah dengar kamu berhenti.  Tidak apa-apa. Itu keputusan dan pilihan bebasmu. Tetapi kamu tidak perlu meninggalkan Ledalero,” kata John.  Nadanya serius. Tanpa senyum.

“Kamu boleh bergabung dan kerja di (Puslit)  Candraditya. Tetap tinggal di wisma (Wisma St. Agustinus), makan dan minum bersama dengan frater-frater. Satu bulan kamu dapat gaji Rp 25 ribu, karena ongkos tinggal dan makan minum tidak perlu kamu cari lagi. Setelah satu tahun, kamu boleh sekolah lanjut dan kembali ke sini.  Silakan pikir dan beri jawaban,” kata John menawarkan saya kerja.

Tawaran itu membuat saya berpikir panjang. Meninggalkan SVD, tetapi tetap tinggal dan kerja di Ledalero? Ini yang berat.

Beberapa hari  kemudian saya menemuinya di kamar. “Saya mau mengadu nasib di tempat lain, tidak di Ledalero. Saya ingin ke Jakarta,” kata saya.

Di luar dugaan, John mendukung keputusan saya. Dia tidak kecewa.

“Oke. Saya siap memberi rekomendasi untuk kamu bawa. Kalau kamu ke (Penerbit) Gramedia bawa dan beri rekomendasi ke Frans Meak Parera. Kalau ke Kompas, beri rekomendasi ke Daniel Dhakidae,” katanya.

Ah, John, engkau terlalu baik. Surat rekomendasimu masih saya simpan sampai hari ini.

Di Jakarta setahun, saya tidak pernah melamar ke Kompas atau Penerbit Gramedia.

Setelah beberapa tahun bergabung di Harian Pos Kupang, saya bertemu John di Puslit Candraditya di Wairklau, Maumere. Seperti biasa, John selalu bercanda dan suka usil.

“Kamu di Pos Kupang? Enjoy?” Kami tertawa bareng. Kami kemudian berdiskusi banyak hal.

Ketika  ramai-ramai orang mendirikan partai politik di Indonesia, Dr. Jan Riberu mau mendirikan Partai Katolik Indonesia. Niat itu sudah disosialisasikan di banyak forum dan tempat.

Merespon niat mendirikan Partai Katolik itu,  John mengirim sebuah naskah via email ke saya. Judulnya sungguh mengejutkan. “Siapa Yang Membajak Agama Saya?”

Sebagai penjaga halaman opini Pos Kupang, saya berpikir panjang  terhadap  naskah opini  itu. Terbitkan? Atau drop saja?

Butuh waktu beberapa hari mempertimbangkan naskah itu. Keputusan harus diambil. Baik juga diterbikan. Selain memperkaya wawasan pembaca, juga Pos Kupang perlu membiasakan diri dengan polemik-polemik tematis di halaman koran. Itu argumen menerbitkan naskah itu.

Dan, terbitlah naskah John itu di halaman opini Pos Kupang.

Seperti sudah dibayangkan sebelumnya, sontak saja tulisan itu menjadi polemik panjang berbulan-bulan.  Banyak penulis mengirim tanggapan. Pro dan kontra. Ramai.

Ketika bertemu dengan John di Kupang, saya mengganggunya. “Tulisan opini itu membangunkan banyak ular  yang selama ini tidur pulas. Semua ilmu keluar,” kata saya.

John hanya tertawa.

“Tetapi semua orang menunggu respon Pater seperti apa? Saya tunggu tulisan tanggapan Pater,” saya menyergahnya.

“Perlukah saya tulis dan ajar orang banyak lagi? Tidak perlu saya tulis tanggapannya,” kata John serius.

Polemik panjang itu akhirnya ditutup tanpa tanggapan balik dari John.

Sebagai penulis, John sangat produktif. Ratusan tulisan ilmiahnya terbit di beragam jurnal. Dalam dan luar negeri. Puluhan buku juga sudah lahir dari tangannya. Artikel pendek dan populer telah menghiasi halaman banyak koran.

Untuk menulis di koran, John tipikal penulis kasus. Menulis ketika ada kasus yang menjadi perhatian umum. Tulisannya sangat apologetis. Kuat dalam argumentasi. Kokoh dalam pendirian.  Melontarkan kritik tajam. Tetapi juga menawarkan ide brilian.

Ketika kabar kepergiannya  datang dari Ledalero, Sabtu 2 Juli 2022 pagi, saya sungguh larut dalam duka. Hasrat menulis memoar misionaris asal Inggris yang mendarmabaktikan seluruh hidupnya di  Flores ini begitu menghentak. Tetapi hasrat itu tertahan karena tangan terasa dingin.

Ah, John masih terlalu pagi engkau pergi. Terlalu cepat engkau pulang ke rumah abadimu. Terlalu pagi dan terlalu cepat karena bersamaan dengan perubahan status Ledalero. Dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero.

Lembaga pendidikan ini masih membutuhkan kehadiranmu. Karena namamu ikut memberi brand Ledalero hingga ke dunia luar. Kini, jasadmu sudah kaku. Mati berkalang tanah. Tetapi namamu telah menjadi mosaik nan indah untuk Ledalero, untuk Flores, untuk Indonesia dan untuk SVD sejagat.

Selamat kembali ke Rumah Bapa, John. Requiem aeternam dona ei Domine. (*)

Penulis, alumnus STFK Ledalero, tinggal di  Kupang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *