Ajarilah Kami Bahasa CintaMu

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya
tonykleden

Verbum Caro Factum Est: Sabda Telah Menjadi Daging

Telah kita lewati masa adventus. Di empat pekan masa liturgi itu kita mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Natal. Hari kelahiran Juruselamat. Tetapi pula bahwa dalam spirit adventus kita tetap berziarah dalam harapan demi menantikan kedatangan Yesus Kristus, “Saat Ia datang dalam kemuliaanNya.”

Dalam khazanah rohani, adventus tak sekadar dihayati sebagai satu penantian biasa. Tetapi bahwa adventus selalu memperagakan satu sikap batin penuh harapan akan Dia yang dinantikan. Terdapat kerinduan yang tak terputuskan yang disertai rasa haus akan kehadiran Juruselamat yang sungguh didamba. Karenanya, advenire (datang) amat berkaitan dengan attendere (menanti). itulah sikap atentif yang isyaratkan satu gestikulasi ‘rentangkan tangan ke depan untuk menyongsong, untuk menyambut’! Demi menerima Dia yang pasti akan datang.

Natal yang dirayakan tentu berangkat dari satu permenungan mendalam tentang Siapakah yang datang itu? Kualitas perayaan Hari Raya Natal amat berkaitan dengan sosok yang dinantikan selama masa adventus. Tentu di hari Natal kita rayakan kelahiran Yesus, sang Juruselamat. Kita rayakan dengan penuh sukacita, dengan segala pernak-pernik penuh ceriah.  Lukisan Natal penuh bahagia dapat kita pahami dalam madah Yesaya, O betapa indah kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan bentara  yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik” (Yes 52:7). Bagi Yerusalem, kehadiran Juruselamat  tak lepas pisah dari alam pembebasan, “Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab Tuhan telah menghibur umatNya. Ia telah menebus Yerusalem” (Yes 52:9).

Tetapi Natal yang kita rayakan tak sekadar bermakna pada kelahiran seorang anak manusia. Natal dalam konteks prolog Injil Yohanes, berarti satu perayaan tentang kelahiran ‘satu bahasa yang mempribadi.’ Allah tak cuma bersabda. Allah juga tak hanya mengirim utusanNya untuk menyampaikan SabdaNya. Tetapi bahwa kini, Allah sendiri hadir dalam Sabda yang nyata. Hadir dalam Pribadi Yesus Kristus, PuteraNya. Dia itulah Sang Sabda Sejati. Panorama inkarnasi itu juga dilukiskan oleh penulis Ibrani:

Pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi. Tetapi, pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya” (Ibr 1:1-2).

Maka, bagi Gereja, bagi kita sekalian, perayaan Natal adalah satu panggilan inkarnatif. Itu berarti apa yang menjadi nilai keselamatan dibawa sebagai satu pewartaan yang hidup dan nyata. Itulah gaung keselamatan yang berakar, hidup, dan bertumbuh sebagai nilai yang unggul dan cemerlang dalam peradaban hidup manusia. Mari kita dalami tiga butir permenungan natal inkarnatif:

Pertama, Natal adalah satu panggilan luhur untuk mencintai martabat manusia! Allah menjadi manusia tandaskan betapa luhurnya martabat manusia. Allah telah menciptakan manusia seturut gambar dan rupaNya (Kej 1:26), dan memahkotai manusia itu dengan kemuliaan dan semarak (Maz 8:6). Kesadaran akan natal inkarnatif mesti menjadi motivasi dasar serta orientasi hidup menuju transformasi personal. Artinya, manusia tak diciptakan untuk masuk dalam satu keadaan “kaku, beku atau statis”. Tetapi bahwa manusia diciptakan untuk bertumbuh, bergerak, dan senantiasa berada dalam proses menjadi! Transformasi pribadi dalam spirit Natal berarti bahwa kita pun telah dilahirkan bersama Kristus, siap bertumbuh serta berubah di dalam Dia.

Transformasi personal yang sehat kini menjadi syarat dasar untuk satu proses transformasi kolektif. Kebaikan atau kesejateraan bersama (bonum commune) hanya terlahir dari niat, sikap, tindakan yang baik dan benar atas dasar harkat dan martabat manusia. Karenanya,  natal inkarnatif adalah undangan tegas untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan yang tak pernah boleh dikaburkan, apalagi dilenyapkan oleh perbagai dorongan atau kekuatan yang menghancurkan. Tentu, transformasi kolektif itu bercitra inklusif, yang didasarkan nilai-nilai universal. Merangkum semesta.

Bagaimanapun, tak dapat ditampik adanya kenyataan miris berbagai tragedi yang memberondong kedamaian hidup bersama. Luka-luka kemanusiaan menjadi kasat mata dan jamak terjadi. Dunia tak pernah sepi dari peperangan, kekerasan, kelaparan, serta pembantaian di sana-sini. Natal inkarnatif mesti tetap menjadi alarm agar manusia sungguh melihat dirinya sebagai citra diri, gambar dan rupa Allah sendiri.

Kedua, Gereja, kita sekalian dipanggil untuk berinkarnasi bersama Kristus, Sang Sabda sejati. Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia, tak cuma termeditasi dalam sosok fisikNya. Kristus pribadi sungguh tampak kata-kata dan ajaranNya. Kristus ‘mendaging’ itu tampak sungguh dalam berbagai sikap dan   tindakanNya. Kristus ‘membumi’ terbaca jelas dalam  seluruh peristiwa hidupNya.

Natal inkarnatif  kini menjadi satu keharusan tak terelakan bagi Gereja untuk mewartakan Kristus Yesus, pokok keselamatan semesta. Warta damai, keadilan, pengampunan, kesabaran, solidaritas, kemurahan hati, yang dipadatkan sebagai  panggilan untuk mengasihi mesti menjadi narasi-narasi hidup. Semua nilai itu menjadi kekuatan Gereja, umat Allah, ketika kebajikan-kebajikan itu berbuah dan menyata dalam aneka kesaksian hidup yang unggul.

Natal inkarnatif adalah juga adalah pula satu koreksi serius menyangkut intimitas relasi umat Allah dengan Sabda Allah. Kesaksian hidup yang jelas, tentu bertolak dari keberakaran yang paten pada Sabda Allah.  Rasul Paulus berkeyakinan betapa keberakaran pada Sabda Allah adalah dasar hidup dan perutusan seorang murid, “Bagaimana orang mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana orang dapat memberitakanNya, jika tidak diutus?” (Rom 10:14.15). Demikianpun dari cara hidup jemaat perdana telah termaklumi bahwa berkumpul bersama sambil mendengar pemberitaan Sabda Allah salah satu citra dasar komunitas kristiani (Kis 2:42).

Ketiga, natal inkarnatif juga dipahami sebagai kedaulatan komunikasi Allah-manusia. Natal diterima tak sekadar bahwa Allah sungguh menjadi manusia. Tetapi bahwa Allah juga sungguh masuk dalam dinamika  peristiwa berbahasa. Oleh bahasa, satu komunikasi dapat dimungkinkan. Dalam peristiwa berbahasa Allah tunjukkan kembali rencana dan kehendakNya. Melalui kisah berbahasa, manusia dapat berelasi, berdialog satu dengan yang lain. Ada harapan mulia di balik kisah berbahasa itu, bahwa manusia dapat terhubung (kembali) sebagai satu keluarga, satu komunitas (persekutuan), satu kelompok masayarakat yang lebih luas.

Natal inkarnatif tampilkan bahasa damai, bahasa sukacita! Dalam bahasa sedemikian itu ada kesejukan komunikasi. Terdapat aura kerekatan rasa kekeluargaan. Bahasa baru dalam ‘Sabda menjadi manusia’ kibarkan suasana  ketentraman penuh sapa. Dalam pribadi Sang Firman, segala perbedaan dan warna kemajemukan adalah kekayaan bagi satu persekutuan! Tiada lagi celotehan-celotehan distingtif-separatif-eksklusif: agamis-kafir, saleh-laknat, pribumi-asing, utama-pinggiran, elitis-rongsokan, pilihan-buangan. Di malam Natal ada gema mulia keterjalinan surga dan bumi menyatu sebagaimana diserukan dalam madah malaekat, “kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2:14).

Namun, tak dapat ditampik adanya kisah-kisah kesemrawutan dalam berbahasa yang tengah terjadi. Peristiwa berbahasa yang sejuk telah dilumuri berbagai virus maut yang menggeroti. Tersebarnya berbagai hoaks atau informasi palsu yang sungguh kakangi kenyataan (kebenaran); ada pula berbagai ujaran kebencian yang provokatif dan agitatif. Di balik semuanya ada kepentingan dan tujuan sepihak yang hendak diperjuangkan sungguh. Di muaranya, distorsi dialog dan deviasi komunikasi jadi tak terhindarkan. Manusia bisa saling bersikap sebagai musuh jahanam yang pantas dihempaskan. Tangan pun menjadi ringan untuk memegang berbagai senjata maut penuh teror dan kekerasan.

Pada rana paling praktis, ketidaksantunan dalam berbahasa terekspresi pula dalam diksi-diksi yang menusuk serta dinamika suara penuh ejekan serta mempermainkan. Di balik semuanya tentu ada ketidakmatangan dalam emosi; ada pula keangkuhan yang tempatkan diri sendiri di tahta superior di atas sesamanya. Akibatnya, kita merasa berhak sekali untuk menerjang sesama yang ‘bukan kita, yang berbeda, yang tak sesuai kriteria, yang mengusik rasa nyaman dan status quo kita,  dan sesama yang ternilai lemah dan suram dalam hidup.

Ketika kita rayakan Natal, sejatinya kita terpanggil untuk menata ulang segala kisah berbahasa kita dengan sesama dan bahkan dengan alam semesta. Natal adalah milik kita bersama dalam ketenangan dan damai. Dan semuanya hanya mungkin saat segala pernak-pernik dan asesori natal penuh kegemerlapan itu diubah menjadi buah-buah natal. Mari kita ingat akan apa yang ditulis oleh Rasul Paulus, “Namun, sekarang, buanglah semua itu: kemarahan, kemurkaan, kebencian, fitnah, dan perkataan kotor dari bibirmu” (Kol 3:8).

Mari kita berangkat menuju palungan sederhana. Untuk memandang dan menyembah Bayi Kudus, “Firman yang telah menjelma menjadi manusia.” Biarkanlah hati kita diajarkan dan dipenuhiNya lagi dengan Bahasa Cinta kasih. Itulah Bahasa Agung yang mengutuhkan, yang menyembuhkan, yang membebaskan, serta meneguhkan segala ikatan perjumpaan dan kebersamaan di antara warga manusia.

“Di hari Natal, berusahalah untuk memberikan Salam Damai Natal yang tulus juga kepada (sama) saudaramu, tetanggamu, rekan kerjamu, teman dan sahabatmu, bahkan musuh-musuhmu, yang sudah tak berkenan, dan tak punya tempat lagi di hatimu. Dalam semangat Natal semuanya kembali bersama dalam ikatan damai penuh kasih.”

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro-Roma, Natal 2020.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *