Pesan Soliditas dan Solidaritas dari Covid-19

  • Whatsapp

Ketika mulai mewabah di Tanah Air medio Februari 2020 lalu, setelah menyerang sejumlah negara di Eropa,  Amerika Serikat dan China, virus corona (Coronavirus Disease/Covid-19) dianggap biasa-biasa saja. Orang lalai. Alpa dan telat mengantisipasi.

Covid-19 memang berbeda. Daya bunuhnya kecil saja. Yang sembuh juga jauh lebih banyak dari yang meninggal. Tetapi kemampuan jangkitnya luar biasa cepat. Menyebar cepat dan jadi pandemi. Di Italia, dalam  satu hari bisa lebih 700 orang tewas meregang nyawa akibat virus ini.

Bacaan Lainnya

Mulanya orang Italia anggap Covid-19 itu biasa. Sama seperti flu biasa. Maklum setiap kali terjadi pergantian musim, Italia selalu dilanda virus. Obatnya sudah ada. Vaksin yang gampang diperoleh. Tak dinyana Covid-19 bukan virus biasa. Parahnya tidak ada vaksin.  Dan karena itu, korban berjatuhan.

Di Tanah Air, pemerintah bertindak gesit. Membentuk Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan Covid-19. Gugus Tugas ini terbentuk sampai ke provinsi. Juga  kabupaten. Ketuanya kepala daerah. Gubernur di provinsi. Bupati di kabupaten. Dengan Gugus Tugas, kerja bareng, kerja sama, kerja terkoordinir menjadi lebih bagus. Semua satu semangat. Satu tekad. Sama-sama lawan Covid-19. Lawan supaya tidak menyebar luas. Tidak membunuh banyak orang.

Dr. drg. Dominggus Minggu Mere, M.Kes (kiri) didampingi Dr. Marius Ardu Jelamu (kanan) memberi penjelasan kepada wartawan tentang perkembangan Covid-19

Dan syukur. Di NTT,  semua bupati/walikota di bawah koordinasi Gubernur NTT satu tekad melawan virus. Semua menjaga wilayah masing-masing. Membentengi warganya dari ancaman virus ini.

Batas antarkabupaten dijaga ketat. Diperiksa setiap pelintas batas. Bahkan antardesa juga dijaga. Dipasang portal. Bandara ditutup. Pelabuhan laut juga sama. Ditutup dari kapal luar. Mungkin berlebihan.   Tetapi pesannya sama. Tidak mau kecolongan virus ini.

Aktivitas sosial kemasyarakatan dihentikan. Ibadat keagamaan ditiadakan. Sekolah ditutup. Anak-anak sekolah belajar dari rumah. Ujian secara daring. Mal, restoran, hotel ditutup. Perusahaan-perusahaan merumahkan karyawan. Pegawai Negeri Sipil tidak masuk kantor. Work from home. Kerja dari rumah.

Semua larangan, pembatasan ini cuma bermaksud satu : lawan Covid-19. Dan hasilnya kita rasakan.  NTT termasuk daerah dengan angka kasus positif paling kecil di Indonesia.

Dari data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional di NTT hingga hari Minggu (19/7/2020) terdapat 134 kasus  terkonfirmasi Covid-19, yang sembuh 106, meninggal dunia 1 orang, masih dirawat 27 orang. Pemegang rekord dipegang Jawa Timur dengan kasus sebanyak 18.033 disusul DKI Jakarta sebanyak 16.236 kasus.

Dari data ini terlihat kerja keras, kerja serius dari semua stakeholder di NTT berbuah manis. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-      19 NTT, juga di semua kabupaten, perlu diberi apresiasi tinggi.

Di provinsi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-     19 bekerja tanpa lelah dan jemu. Setiap hari memantau. Melakukan sosialisasi. Menangani dan melakukan apa saja melawan Covid-19. Setiap hari Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dr. drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes, didampingi Juru  bicara   Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si, dua kali mengumumkan update data Covid-19 di NTT. Pengumuman pertama pukul 15.00 Wita. Kedua pukul 21.00  Wita. Pengumuman ini setiap hari. Tanpa henti. Tanpa mengharapkan pujian, apalagi tambahan penghasilan semisal uang lembur.

Panggilan akan tanggung jawab dan akan kemanusiaan saja yang mendorong tim  Gugus Tugas Covid-19 berkantor setiap hari, ketika semua ASN yang lain work from home.

Hasilnya luar biasa. Ketika pada beberapa bulan pertama provinsi lain sudah terpapar dan masuk zona merah,  NTT tetap mempertahankan zona hijau. Bersih dari Covid-19. Hingga akhir Maret NTT masih bebas Covid-19. Kasus pertama terjadi awal April 2020, ketika pasien 01 dinyatakan positif.  Tim Gugus Tugas Covid-19 cepat. Pasien 01 dirawat di rumah sakit. Sekitar tiga minggu kemudian diuji sampel swabnya. Hasilnya negatif. Sembuh.

Untuk pemulihan ekonomi masyarakat terdampak, pemerintah juga gesit. Menyiapkan skema bantuan untuk masyarakat. Entah itu dari dana desa, juga dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT).

Di provinsi, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, bertindak tegas dan cepat. Dana-dana pemerintah di dinas-dinas teknis dialihkan untuk penanganan Covid-19 dan terutama untuk pemulihan ekonomi masyarakat.

Kepada masyarakat NTT, Gubernur VBL meminta tetap mengikuti protokol kesehatan. “Tetapi juga jangan terlalu cemas juga. Kalau cemas dan takut, imun tubuh berkurang. Kita mesti tetap bekerja keras untuk menata kehidupan ke depan,” kata VBL pada suatu kesempatan konferensi pers awal April 2020.

Sikap dan langkah VBL seperti ini mendapat sambutan dan apresiasi luas. Tidak hanya di tanah air, tetapi juga di luar negeri.  Dari luar negeri Duta Besar  Republik Indonesia (RI) untuk Republik Ekuador, Diennaryati Tjokrosuprihatono, terang-tenganan memuji berbagai cara yang dilakukan Gugus Tugas Covid-19 di Provinsi NTT yang dipimpin Gubernur NTT,

“Saya mengucapkan selamat untuk NTT. Karena saya mendengar berita bahwa NTT yang terkena virus corona tidak banyak. Bahkan ada banyak yang sudah sembuh. Ini merupakan prestasi yang luar biasa,” ujar Dubes Diennaryati Tjokrosuprihatono dalam wawancara internasional.

Sebagai Jubir Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu (tengah) setiap hari menginformasikan Covid-19 di NTT

Dalam wawancara yang diikuti Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si, dan sejumlah misionaris Indonesia yang ada di Ekuador dan belahan negara lainnya seperti di Amerika dan Australia itu, Dubes Diennaryati juga mengapresiasi betapa Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT betul-betul menjaga NTT sehingga tidak terjangkit virus corona.

Menurut Diennaryati, ada hal menarik yang juga dilakukan Gubernur Viktor dalam menekan angka penyebaran Covid-19 di Provinsi NTT yakni dengan memberikan akses dan kesempatan kepada masyarakat untuk membuka diri.  “Dan saya juga dengar Pak Gubernur memberikan kesempatan untuk masyarakat membuka diri dengan tetap menjaga diri. Artinya tetap mengikuti protokol kesehatan. Saya pikir, itu luar biasa,” puji Dubes Diennaryati.

Kerja paripurna, kerja tanpa lelah dan komitmen bersama semua stakeholder pada masa pandemi Covid-19 membawa pesan kuat: soliditas dan solidaritas bersama melawan virus laknat bernama  Covid-19 ini. (advertorial/kerja sama dengan biro humas dan protokol setda ntt)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *