“Perempuan-Perempuan di Dekat Salib”

(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Saat semua orang menghina dan menjauhimu karena kekalahan dan keberantakanmu, tetapi saat itu ibumu tidak pernah menjauhi atau pun takut dan malu untuk tetap bersamamu….”

Bacaan Lainnya

Satu catatan penuh makna datang menyapa. Saya melihat anak yang kehilangan orangtua, dan orangtua yang kehilangan anak satu-satunya; dan ternyata banyak orangtua yang hancur karena kehilangan anak……”

Kasih orangtua, iya kasih ibu sungguh sepanjang jalan hidup. Anak tak sekadar bicara tentang perelasian darah. Tentang tubuh jasmaniah yang melahirkan! Tak cukup.. Anak adalah relasi kasih dan perhatian. Bagi ibu, anak adalah ‘tawa dan tangis, cemas dan harapan.’ Demi sang anak, ibu adalah penenun penuh sabar. Iya, sebab benang-benang kisah hari ini mesti ditenun. Demi selembar kain kehidupan anak di hari esok.

Ibu, sungguh adalah dekapan kasih yang tak pernah berakhir. Dunia yang keras dan banyak tak pastinya mesti tetap jadi alam penuh ramah dan damai bagai rahimnya. Sang anak mungkin tak pernah tahu segala yang tersembunyi di sudut hati sang ibu. Namun, merasa ‘ada ibu di sampingnya’ sudahlah cukup untuk berlangkah maju.

Lihatlah! Si kecil yang masih manja merengek di usia TK, mulai belajar percaya diri untuk ciptakan jarak dari alam rumah. Namun, tak segampang tinggalkan jarak hati penuh kasih. Sang ibu mesti bertahan. Di situ dan selalu. Kadang, walau tanpa kata, cukuplah tatapan penuh senyum sudah punya makna memberi kekuatan! Demi sang anak, pada ibu, “spasi kasih” walau dalam segala kepenatan hidupnya, tetaplah jadi jaminan pasti.

Di jalan-jalan, di emperan toko, di tempat-tempat publik, di stasiun dan terminal, tertangkap dan terbaca hati penuh keberanian. Walau dalam dunia yang penuh sangar, acapkali tak ramah, serta semakin jauh dari kepedulian, ‘dekapan tangan kasih ibu’ tetaplah jadi sepotong alam surga bagi anaknya.

Sungguh, ibu tak ingin ‘kehilangan kasih demi anaknya.’ Maka, tangkaplah suara jerit pilu menyayat anak-anak dunia yang kehilangan dan ditinggalkan sang ibu terkasih. Roda zaman terlalu keras untuk menggilas perjuangan sejadinya. Kepada merekalah, demi anak-anak itu,  semoga tetap ada ‘aliran kasih ibu’ yang  tetap datang menyapa..’

Di dekat salib, di puncak Golgota, tertangkap semangat penuh perjuangan dalam derita. Mungkinkah sang Putera bertahan karena tatapan kasih Maria, ibuNya? Bagaimanapun hati yang terluka, hati yang tersakiti, hati yang tertikam, tentua adalah alam nyata yang di sanubari Maria, sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan.

Tetapi, tidakkah di balik semuanya tetaplah ada pengharapan baru? Saat Sang Putera ditinggalkan sendiri dalam derita? Si Iskariot telah berkhianat, Petrus menyangkal. Yang semula berikhtiar  ‘tegar bersamaNya,’ di malam itu juga  telah hilang mencari jalan terbaik dan aman bagi diri sendiri.’ Namun?

Maria, sang Bunda, dan beberapa perempuan lain, istri Klopas dan Maria Magdalena, tetaplah jadi wanita tangguh penuh setia. Yang tetap bercahaya dalam pengharapan. Demi jalan kemuridan di dalam Yesus, sang Anak.

Iya, perempuan-perempuan di dekat salib itu tak pernah remuk berantakan di Golgota. Tetapi, Maria dan perempuan-perempuan lain itu adalah lonceng pengharapan untuk ‘memanggil pulang’ para murid lainnya, untuk memanggil kita masing-masing untuk bertahan. Iya, untuk menata kembali batu-batu pengharapan yang telah berserakan.!

Tuhan telah menderita di salib, namun iman dan kebertahanan dalam perjuangan tak pernah boleh senyap. Merenungkan Bunda di dekat Salib, bisa membawa kita sejenak  pada bunda Monika, yang bertahan di tepi pantai, yang memanggil pulang putranya Agustinus. Di dalam pengharapan dan doa-doanya yang tetap berkanjang!

Sungguh, sekali lagi, Kasih Ibu sepanjang jalan. Kasih Maria, ‘Mater Dolorosa et Mater Ecclesiae’, adalah suara lembut yang memanggil kita untuk kembali pada PuteraNya. Sebab kita semua adalah satu dalam Kasih yang tak bersyarat..

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro – Roma

  • Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *