Hanya Titik Air Mata dan Senyum Kehancuran

(satu perenungan adventus: menanti Tuhan yang peduli)

(Satu perenungan pada mata sembab Goenawan Mohamad)

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

 “Tak adakah harapan yang serius? Begitu gampangkah pesimisme dan begitu cepatkah sinisme?” (Goenawan Mohamad, dalam Pesimisme, Tempo, 16 Agustus 2015)

Tatapan kosong berkata sejuta

Mata sembab itu tak bisa disenyembunyikan. Ada keaslian rasa hati yang tak mampu diplintir. Itulah yang tertangkap dari aura suram penuh pedih seorang  Goenawan Mohamad. Di Kompas TV kemarin itu, sekiranya runtuhlah sudah seluruh Indonesia Raya. Kolumnis kondang, pendiri komunitas Salihara dan pendiri majalah Tempo itu sepertinya mesti terbata-bata tentang nasib negeri. Seperti bakal tak berarah.

Wajah dukanya itu adalah wajah cinta negeri yang teramat dalam. Sebab itulah sesak di dadanya sungguh berkecamuk. Indonesia adalah luka yang teramat dalam. Kelabu penuh getir adalah jalan terjal yang sepertinya jadi takdir sejarah. Negeri ini dibangun dalam korban, dalam perjuangan, dalam ‘beri diri tanpa pamrih.’ Semuanya demi ‘merah merdeka, putih merdeka, warna merdeka.

Harapan di titik nadir?

Di atas semuanya, negeri ini dibangun dalam simpul-simpul cita-cita. Dibakar semangat penuh harapan. Cita-cita bangsa tentu akan diraih pasti dari waktu ke waktu. Dari satu ke pemimpin ke pemimpin berikutnya. Dari Bapa Soekarno hingga di tangan Bapa Joko Widodo, kini.

Sayangnya, di tapak demi tapak itu kita sepertinya disenyapkan oleh ketakberdayaan. Harapan yang dibangun sedikit demi sedikit itu mesti dibayar mahal kecewa demi kecewa. Sebuah harga mahal harapan yang mesti dibayar sakit hati. Sedemikian mudah kah terperdaya oleh oleh taruhan harapan?

Negeri ini tak dipimpin oleh pemimpin yang bermarwah. Karena di baliknya ada politik yang sulit dijinakkan. Ada litani kepentingan. Ada maksud-maksud terselubung yang sulit tersingkapkan. Bahkan untuk menerka dan menduga sesederhananya saja terasa sekian rumit. Ada apa sebenarnya di balik semuanya ini. Iblis mana kah yang merasuk sehingga si Jokowi memilih jalan penuh tafsir sepelik ini?

Jika memang telah  terlanjur …..

Namun, yang harus dibayar mahal sebenarnya adalah rasa hati yang telah banyak tercurah. Semuanya dipadatkan hanya dalam satu kata:  “Terlanjur.” Iya, yang telah berjalan selama ini adalah parade keterlanjuran. Terlanjur sayang, terlanjur cinta, terlanjur optimis, terlanjur yakin, terlanjur menaruh harapan!!  Hingga tiada lagi yang tersisa di hati dan sanubari jika memang sebaliknya harapan jadi terkikis. Tak akan tiba pada kenyataannya.

Yang ada dalam diri si Goenawan Mohamad kini sepertinya adalah ‘kekosongan tak tersisa.’ Di hati Goenawan, yang kutafsir, bukanlah kecewa dan sakit hati personal. Sebab Goenawan bukan type pencari keuntungan bagi dirinya di balik kekuasaan. Dia hanya meratapi negeri yang amat dicintai dan dipeluknya dengan kasih sayang. Itu lamentasi murni dari gejolak hati tak berpura-pura.

Antitesa ‘mesianik?’

Negeri elok yang amat dicintai ini kini sungguh diratapi. Apa yang salah dari Sabang hingga Merauke sehingga si Jokowi sungguh sudah berbalik arah? Sungguh tak sanggup sepertinya untuk sejenak kembali  tapak tilas pada rangkaian eforia tak terbendung demi cita-cita bangsa nan cemerlang. Dan semuanya itu ditempatkan sejadinya pada pundak seorang Jokowi.

Sekiranya si Goenawan dipaksa berkeluh maka rintihan yang terucap, “Jokowi bukan yang dulu lagi.” Iya, “Jokowi tak seperti sediakala.” Yang dilantik dan ditampuk sebagai ‘mesias’ walau untuk disalibkan dengan cara apapun, asalkan demi negeri tercintai, justru kini harus ditafsir sebagai algojo kejam untuk ‘telanjangi dan salibkan’ harapan semesta ibu pertiwi.

Tentu Rosiana Silalahi, di Kompas TV itu, tak salah tafsir dan berucap, sekiranya Bang Goenawan Mohamad sungguh lagi patah hati dengan sang Presiden. Apa yang semula disongsong sebagai harapan, nyata-nyata semuanya berubah ditelan dusta. Sebabnya?

Mahalnya harga sebuah kepercayaan

Yang terbaca di harian Kompas, “Kenyataannya, Gibran justru memanfaatkan putusan MK yang kontroversial itu untuk mendaftar sebagai cawapres berpasangan dengan Prabowo Subiyanto.” Goenawan Mohamad sudah meramal potensi krisis penuh chaos yang bakal menimpah negeri. Politik sunguh-sungguh bukanlah daya pengabdian penuh seni dan tahan banting demi negeri tercinta. Politik tetaplah sandiwara penuh tipu-menipu.

Soalnya? Bukan pada Gibran yang mesti dihambat demi jadi Cawapres. Bukan itu! Bukan pula pada Dinasti Keluarga yang ditatap penuh sinis dan amarah. Tapi, demi si Gibran, demi apa yang ditafsir sebagai Dinasti Keluarga, mengapa kah kedaulatan hukum di tangan Mahkamah Konstitusi itu yang mesti dihempaskan?

Dalam nada penuh sendu, tetaplah terdengar suara Goenawan, “Lalu siapa yang bisa kita percaya? KPK tidak bisa dipercaya lagi. MK tidak bisa dipercaya lagi. Presiden yang kita sayangi tidak bisa dipercaya lagi. Lalu siapa? Itu krisis yang serius.” Iya, krisis kepercayaan itulah yang sungguh menyayat hati. Sepertinya  tak ada lagi sandaran untuk berharap demi Indonesia yang lebih bersinar dan lebih bercitra.

Ramalan profetik nan suram

Negeri ini sepertinya tak didandani nyentrik penuh pikat demi sebuah pesta raya demokrasi bermartabat di tahun mendatang ini. Tidak. Di balik wajah getir si Goenawan Mohamad terbaca ramalan anak-anak bangsa yang bakal saling beringas dengan cakar-cakar kekerasan.

Bisa saja terjadi bahwa yang lebih garang dan sadis terpaksa diakui sebagai pemenang. Yang lebih banyak gemuruh gertaknya bakal dengan mudahnya kangkangi segala yang normatif. Demi proklamir dirinya sendiri: “We are the champion.” Itukah yang dikehendaki si Jokowi dengan segala zig-zag politiknya yang sulit ditangkap oleh hati nurani dan akal sederhana yang masih waras?

Rasa hati dan daya nalar Goenawan Mohamad, kini, mungkin lagi dibentur oleh riak-riak demokrasi Tanah Air. Demokrasi yang sering jadi Catatan Pinggir sepertinya harus dibikin lebih pinggiran lagi. Sebab alam demokrasi sehat yang dicita-citakan itu tak bakal tertulis di titik sentrum, di tengah, pada halaman utama buku harian politik anak-anak Negeri.

Ujung sebuah geliat revolusi mental?

Sekiranya mesti merujuk pada revolusi mental sebagai primadona pembangunan integral-holistik manusia Indonesia, apakah yang mesti dinantikan lagi dari sosok manusia Indonesia penuh ceriah di balik gejolak ini? Ketika badan pendekar Hukum, Mahkamah Konstitusi telah digaruk, dikeruk, serta tersedot oleh vacuum cleaner libido politik dinasti?

Air mata di sepasang bola mata Goenawan, mungkinkah jadi isyarat bakal ada genangan air mata prahara di pesta Demokrasi mendatang ini? Masih mungkin kah terlihat celah asa demi revolusi mental di balik transformasi politik yang kebablasan dan tersendat-sendat? Dan justru semuanya ini ada pada kendali  ‘Presiden yang kita sayangi.’

Jadi teringat lagi si Emha Ainun Nadjib. Dia yang pernah dikecam publik karena sempat beri gelar ‘Firaun’ pada Presiden Jokowi. Itu baru satu senggolan pada citra Jokowi dari sekian banyak hantaman tak elok. Tetapi bukankah ada sekian banyak prajurit medsos yang tetap setia di sekeliling Jokowi?

Namun, di titik teramat krusial demi demokrasi bercitra, justru Jokowi lah yang ‘sia-siakan’ semuanya. Dan bahkan membenarkan gejolak ‘firaun’ pada dirinya sendiri.

Tangisan buat diri sendiri di ‘negeri pengasingan’?

Sungguh! Yang ditangisi Goenawan Mohamad adalah Negeri tercinta; yang diratapinya adalah Mahkamah Konstitusi yang dibikin sekarat; yang diprediksi dengan hati menjerit adalah demokrasi suram yang lahirkan keseraman.

Namun di atas semuanya, yang paling diratapi Goenawan Mohamad, dan kaum yang sepikir dan serasa dengannya, sesungguhnya, adalah diri sendiri yang telah serahkan segala harapan. Sampai-sampai tanpa ada lagi peluru-peluru harapan yang tersisa! Yang benar-benar  tinggal tersisa “hanya titik air mata dan senyum kehancuran.”

Akhirnya…

Dan selanjutnya? Entahlah….

Namun, kita masih berharap pada Kuasa Langit, “Di negeri ini Tuhan; di tanah ini Tuhan; Bapa jangan biarkan kabut cela noda dosa seakan melebihi kuasa-Mu. Tunjukan kuasa yang ada di tanganMu, tunjukanlah Tuhan. Agar dapat mengerti dan mengerti besar kuasa-Mu…”

Verbo Dei Amorem Spiranti

 Penulis, rohaniwan Katolikm tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *