GM Swasti Sari Jelaskan Untungnya  Jadi Anggota Swasti Sari

KUPANG KABARNTT.CO—General Manejer (GM) Kopdit Swasti Sari, Yohanes Sason Helan, mengungkapkan untungnya bergabung dan menjadi anggota Kopdit Swasti Sari, terutama dana kematian (Daperma) dan pinjaman.

“Kalau ada pinjaman itu diputihkan. Pinjaman dihapus, tidak dibebankan kepada ahli waris kalau dengan produk Swasri Sari. Di situ beda dengan lembaga keuangan yang lain, yang kalau mati tidak mendapatkan dana kematian. Di Swasti Sari daftar ini hari sebentar malam Tuhan panggil itu sudah dapat dana kematian sebesar Rp 4 juta walaupun simpanannya mungkin baru Rp 250.000” jelas GM Swasti Sari, Yohanes Sason Helan, Senin (13/3/2023), di Kantor Swasti Sari Cabang Kupang Kota, ketika membagikan Daperma kepada para ahli waris yang berhak mendapatkannya.

Bacaan Lainnya

Menurut Sason, jika sudah terdaftar di Kopdit Swasti Sari, maka anggota secara otomatis terdaftar di asuransi karena dari Daperma ke asuransi murni.

“Itu yang kita ceritakan sesuai dengan apa yang kita kerjakan dan lakukan. Jadi mungkin kemarin ada yang tunggu-tunggu hampir 400 orang dan itu kita sudah serahkan hampir 200 orang ahli waris. Karena kita dari Daperma ke asuransi murni. Bapa-mama kita semua sudah diasuransikan, kita tidak sadar dan tidak tahu karena bapa-mama tidak ada beban 1 sen pun untuk membayar asuransi itu. Lembagalah yang bayar. Lembaga bayar sekarang 1 bulan itu mencapai Rp 900,” ungkap Sason.

Sampai dengan saat ini, kata Sason, jumlah anggota Swasti Sari mencapai 200 ribu anggota dengan hasil asset sudah di atas Rp 1 triliun/

“Jadi lembaga ini harus dijaga dengan baik dan benar. Kita yang baru masuk itu rawat baik-baik, jangan sampai kita masuk dan spekulasi, sudah penyakit akhirnya UGD, sudah diberitahukan darurat baru cari Swasti Sari. Jangan sampai kita abaikan milik kita, namun harus lebih dijaga agar tetap tumbuh dan berkembang,” kata Sason.

“Kita punya uang Rp 10 juta kita bisa pinjam Rp 100 juta. Selisih uang 90 juta itu teman-teman punya uang. Mengerti dulu ini baik-baik, teman-teman punya uang yang sudah membantu kita dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan, sebuah persoalan, itu harus dimengerti oleh hampir 200 ribu anggota ini,” jelasnya.

“Jangan sampai waktu mau pinjam datang manisnya seperti gula. Setelah itu kami cari. Itu watak-watak anggota kita ada di sini sebagian kecil. Kalau kita membutuhkan datang sembah sujud, terlambat satu dua hari mulai komen-komen, setelah mau kembalikan 2-3 bulan kami cari, kami lagi yang cari,” imbuhnya.

Sason meminta perilaku dan budaya buruk seperti ini jangan ada di Swasti Sari.

“Itu tidak boleh ditanam di sini. Swasti Sari sudah jalan 35 tahun, bukan lembaga baru. Jadi kita ini hanya melanjutkan dari mereka, kita mewariskan harus dengan baik,” katanya. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *