Ziarah dari “Tena Laja” Menuju Ledalero

Penulis bersama Pate Alex Beding SVD di Biara Simeon Ledalero tahun 2019

(Catatan Kenangan untuk Pater Alex Beding SVD)

Oleh Steph Tupeng Witin

Bacaan Lainnya

Pada Sabtu 12 Maret 2022, Pater Alex Beding SVD melangkah tanpa beban memasuki Rumah Bapa. Tepat pada usia 98 tahun, 77 tahun kaul dalam SVD dan 71 tahun dalam imamat. Sebuah keajaiban yang mustahil terulang kembali pada generasi berikut.

Duka agung menggenangi hati Serikat Sabda Allah. Ucapaan duka seolah tak terbendung menyeraki halaman media sosial. Ziarah hidupnya yang terbentang antara “Tena Laja” (bangsal peledang) dan Biara Simeon Ledalero menepi. Di antara ruan-ruas waktu itu tak terhitung butiran karya almarhum yang melimpah. Romo Yansen Raring membahasakan itu dalam nada simpati mendalam: “Satu yang paling kukenang ialah ketekunan ber-kata. Tiada terhitung “kata” yang ditulis, diterjemahkan, diperkatakan dan diwarta” yang menjelma menjadi “daging.”  Ziarah orang pilihan Allah ini akhirnya terhenti di Bukit Sandar Matahari. Kata yang telah menjadi “daging” itu kini bercahaya ke segenap penjuru.

Pada tahun 2011, Pater Alex Beding SVD merayakan 60 tahun Imamatnya. Beberapa Imam SVD mengenang perjalanannya ini dengan menulis sebuah buku kecil berjudul: Bersyukur dan Berharap. Kenangan 60 tahun Imamat Alex Beding SVD.

Penghargaan dari Gubernur NTT, Frans Lebu Raya,, pada perayaan Hari Pers Nasional di Kupang 2011

Buku yang diterbitkan Penerbit Ledalero ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama: Kilas Balik Syukur dan Harapan. Bagian kedua: Doa, Ekaristi dan Imamat. Bagian ketiga: Kerasulan Media. Bagian Keempat: Keterlibatan Sosial. Pada bagian keempat tentang keterlibatan sosial ini Pater Alex menulis dua artikel singkat dan bernas: “Untuk Gereja Katolik Lembata” terkait proses hukum kasus pembunuhan Yoakim Langoday yang dinilainya penuh dengan drama (hlm. 133) dan “Pemerintah Melawan Rakyat” terkait kasus tolak tambang emas di Kabupaten Lembata. Dua artikel ini menggambarkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tanah Lembata yang didera banyak kasus minim solusi kebenaran dan keadilan sejak otonomi 1999 (hlm. 155).

Berikut ini petikan “omong-omong” sederhana bersama Pater Alex Beding SVD di Biara Simeon Ledalero pada pertengahan 2019. Wawancara dalam dua kali pertemuan itu menggali perjalanannya dari Lamalera hingga berlabuh di Biara Simeon. Dalam usia 95 tahun kala itu, Beliau masih menerjemahkan banyak dokumen SVD. Komputer tua di bilik tetap menyala. Dokumen dalam bahasa Belanda tergeletak di sampingnya. Dia tetap setia berkaya hingga akhir. Kini semua di bilik sunyi itu hanya mampu bercerita dalam diam tentang tokoh pers yang tekun dan telaten ini.

 Apa yang Pater rasakan saat berada di usia 95 tahun 2019 ini?

Saya mesti mengatakan bahwa saya merasa sangat bahagia karena saya sehat. Saya masih bisa bekerja. Ya mau bilang apa..ada banyak perhatian dari orang-orang yang mengenal saya dan tahu apa yang saya buat. Artinya, orang-orang ini punya perhatian terhadap kita punya gagasan, buah pikiran. Mereka punya perhatian terhadap semua yang kita lakukan dan hal itu membuat saya bahagia. Memang saya tidak menyesal bahwa saya tidak menjadi pastor paroki. Barangkali itu merupakan sebuah penyelenggaraan saya kerja jadi imam lalu pergi studi sesuai pembesar punya pikiran dan perkiraan bahwa saya punya bakat tertentu yang tidak seperti pastor paroki tapi akan bekerja di sebuah karya yang lain sesuai gagasan pendiri yaitu pewartaan. Saya jadi imam lalu pergi studi sampai sarjana muda di Universitas Indonesia lalu dipanggil pulang menjadi guru di Seminari Mataloko. Saya ikut saja perintah itu dengan sebuah perjanjian kepada universitas bahwa nanti saya kembali melanjutkan studi tersebut. Ternyata selama menjadi guru di Mataloko saya memberi kesan bahwa saya tidak perlu lagi ke Jawa untuk studi.

Banyak orang kagum dengan rentang usia sampai 95 tahun. Mereka bersaksi bahwa Bapak sangat disiplin dengan diri dan waktu.

Ya saya akui sangat disiplin dengan diri dan waktu. Saya banyak belajar dari pendahulu-pendahulu kita yang telah banyak memberi contoh bagaimana hidup disiplin. Memang semua orang punya keinginan atau bakat atau pekerjaan yang bisa dibuat. Memang saya melihat itu bukan sesuatu yang gampang. Saya melihat melalui pekerjaan yang saya buat bahwa kalau saya tidak disiplin maka saya tidak akan bisa buat apa-apa. Contoh, kalau saya tidak beri contoh hidup disiplin maka pembantu-pembantu saya akan bekerja sesukanya, asal-asal saja. Saya bersyukur bahwa saya boleh laksanakan itu dalam tindakan-tindakan pribadi seperti aturan itu saya laksanakan seperti yang saya buat sendiri, seperti bangun pada waktu yang direncanakan, makan sama dengan konfrater yang lain. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena sampai sekarang ini pada usia sekarang ini tidak punya satu penyakit. Banyak konfrater saya dengar sakit ini itu, operasi sana sini tapi saya bersyukur tidak pernah mengalami semua itu. Barangkali hanya satu kali saja dalam hidup saya, dimana saya kena pisau dan operasi kecil di RS Lela. Saya lihat Dokter Aliandu operasi saya waktu itu seperti bermain-main saja.

Bagaimana masa kecil dulu di Lamalera, keluarga, pantai, gereja yang berperan penting sampai sekarang?

Saya berasal dari Suku Bediona yang bertempat tinggal di Lamalera B. Bapak punya istri pertama melahirkan dan meninggal dunia. Kemudian dia pilih perempuan dari Lamalera A. Kami diarahkan pergi ke Lamalera A dan waktu saya dilahirkan itu diminta bantuan dari seorang bidan beragama Islam dari Larantuka. Keluarga kami punya kaitan dengan keluarga Islam. Hal itu kami pelihara sampai hari ini dan mereka begitu menyatu dengan kami. Kami berbeda agama tapi saling mengasihi sebagai keluarga. Mereka juga mempunyai perhatian sangat besar kepada saya sampai dengan hari ini. Saya tinggal di Lamalera A sampai saya masuk sekolah dasar (SD). Saat usia 6 tahun saya masuk SD di Lamalera. Pater Bernad Bode waktu itu masuk di Lamalera tahun 1920. Kami semua kenal Pater Bode sebagaimana saya gambarkan dalam buku saya sebagai orang yang diutus Tuhan untuk menjadikan Lamalera suatu pusat untuk bangkitkan semangat orang-orang menjadi guru, tukang-tukang yang tersebar di mana-mana. Saya kagum sekali dengan orang tua ini. Bapak saya seringkali membawa saya untuk bertemu dengan bapak tua itu dan saya bisa membaca pada mata bapak saya bahwa dia ingin sekali saya pada suatu waktu bisa menjadi seperti Pater Bode. Pake jubah, urus sembahyang, rosario di tangan. Waktu saya sudah masuk seminari, kami pindah ke Lamalera B. Rumah saya tidak terlalu jauh dari pantai. Jadi kalau ada kesempatan, pantai jadi tempat rekreasi. Saya belajar kenal laut, kenal pekerjaan orang-orang nelayan itu. Ya….saya tertarik juga. Bapak saya juga barangkali berpikir bahwa sebagai anak sulung, saya nanti menjadi pemegang tongkat pimpinan rumah besar. Dulu, saya mengalami bagaimana mama dan perempuan-perempuan Lamalera berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Ikan yang ditangkap bapak dan laki-laki Lamalera mereka jemur di sekitar rumah dan kemudian mereka jual ke Pasar Wulandoni, penete, berjalan kaki berhari-hari, kadang bermalam di kampung atau jalan untuk menukarnya dengan padi, jagung, ubi, pisang dan bahan makanan lain lalu kembali ke Lamalera. Semua dengan berjalan kaki sambil memintal benang dari kapas untuk ditenun menjadi sarung tebal bagi kami semua. Sekarang memang zaman sudah berubah dan hampir tidak ada yang berjalan kaki lagi. Pake ojek, sepeda motor dan kendaraan berupa mobil lainnya. Coba bayangkan, dulu ibu saya dan perempuan-perempuan Lamalera lain berjalan kaki ke kampung-kampung di seluruh Pulau Lembata. Bagi saya, ini perjuangan yang sangat keras. Sadar atau tidak, ini menjadi inspirasi bagi kami agar selalu berjuang dan tidak gampang menyerah pada kesulitan dan tantangan hidup. Orang kita dulu dengan dengan fasilitas yang terbatas dan sarana yang minim tapi telah mencipta sejarah indah yang sangat mengagumkan.

Ruang kerja Pater Alex Beding di Biara Simeon Ledalero 2019

Bapa punya perjalanan sangat panjang, mulai dari Lamalera sampai di Biara Simeon Ledalero saat ini. Bapak masih kuat, segar  masih membaca, menulis, menerjemahkan dokumen…

Kemungkinan karena saya diberi kesempatan untuk berada dan berbuat sesuatu. Pertama, waktu saya pergi sekolah dari Lamalera. Memang orangtua saya bukan yang paling hebat tapi mereka itu hidup dari pengaruh agama. Pater Bernard Bode SVD yang membuka pikiran mereka sehingga lebih luas dari Lamalera. Saya pergi sekolah bukan dengan pikiran bahwa nanti saya jadi imam. Saya keluar pergi sekolah pertama ke Larantuka setelah tamat sekolah dasar (SD). Saya masuk sekolah tahun 1930. Umur 6 tahun. Waktu saya pergi sekolah malah ada susah lagi. Pada saat tamat sekolah kelas 3, kami dengar ada sejumlah orang yang pintar-pintar. Pada hari terakhir di sekolah, menurut cerita, saya jatuh pingsan dan mesti tertunda selama satu bulan, harus istirahat di rumah, dirawat dan akhirnya saya susah. Saya bilang sama bapak bahwa teman-teman saya sudah sekolah dan saya masih di sini belum pergi. Tapi bapak bilang tidak apa dan dia suruh hubungi Guru Yoseph di Larantuka dan sampaikan bahwa saya bukan malas tapi sakit. Maka waktu saya pulang ke Larantuka, cepat-cepat saya ke sekolah dan mengejar pelajaran yang tertinggal selama satu bulan itu. Tiap hari guru selalu datang bilang ingat kau terlambat satu bulan jadi harus belajar semua pelajaran yang tertinggal. Jadi anak-anak lain senang-senang tapi saya tinggal di rumah untuk belajar. Saya selesaikan sekolah menengah (standard school) bersama teman-teman dengan baik. Teman-teman saya itu antara lain Uskup Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro SVD.

Bagaimana cerita masuk Seminari Mataloko dan Ledalero?

Kami masuk Seminari Mataloko tahun 1936. Saya tidak katakan bahwa seperti orang-orang kampung bilang: anak-anak ini dipanggil Tuhan, anak-anak yang suci. Saya anak yang biasa saja. Asal dari kampung di Lembata. Mataloko itu tempatnya bagus, menarik tapi jauh dari Lamalera. Saya sebagai anak kecil waktu itu memang sangat susah. Pergi ke Mataloko juga mesti susah payah, dengan Peledang (perahu tradisional nelayan Lamalera) ke Larantuka lalu dengan motor laut dari Larantuka ke Ende, lalu sambung dengan truk ke Mataloko. Mataloko juga dingin sekali. Saya selesaikan sekolah di Seminari Mataloko dengan cukup baik, tamat dan masuk di Seminari Tinggi Ledalero dengan situasi perang saat itu. Kami sampai merasa bimbang dengan perjalanan panggilan ini. Suatu waktu saya dengan Paul Sani Kleden yang kemudian menjadi Uskup Denpasar sepakat untuk melarikan diri dari Ledalero. Kami dua nekat mau lari karena ketakutan. Kita ini sekolah untuk apa? Kami takut sekali dengan tentara Jepang. Tapi akhirnya kami bisa jalan terus. Masa Novisiat pun jatuh bangun, Jepang ganggu kami terus sehingga lari ke Lela lalu ke Mataloko dan jadi guru Bahasa Latin pada usia 21 tahun di Mataloko.  Saya rasa hebat sekali karena tidak pernah sekolah guru tapi karena perang kami diminta jadi guru di Mataloko. Murid saya waktu itu antara lain Darius Wilhelmus Nggawa yang kemudian menjadi Uskup Larantuka.  Setelah satu tahun di Mataloko, masih dalam suasana perang, kami melanjutkan studi filsafat dan teologi di Ledalero. Darius Nggawa memang cerdas tapi soal sopan atau tidak, saya tidak tahu. Tahun 1949, mama saya meninggal dunia di Lamalera. Waktu mama sakit, saya pulang ke rumah dua minggu dan saat mama meninggal, saya tidak ada. Memang saya rasa sangat berat karena perjalanan panggilan ini pun belum jelas. Terkait pilihan menjadi anggota SVD, Pater Cornelissen dalam satu konferensi mengatakan bahwa untuk menjadi imam, mesti ada jaminan hidup dan karya. Waktu itu belum ada imam projo dan semua uskup itu SVD. Kami hanya pikir menjadi imam. Belum ada pikiran untuk menjadi misionaris. Bapak saya waktu itu menikah lagi sehingga bisa mendampingi saya saat tahbisan. Waktu itu keluarga dari Lamalera dengan tiga peledang ke Maumere dan mereka diterima di Wairpelit, Nita. Saya merasa sebagai orang yang hebat karena menjadi orang pertama dari Lembata yang menjadi imam. Waktu saya ke Lamalera untuk misa perdana, saya merasa ini hal yang baru karena semua orang dari Kedang dan seluruh Lembata datang ke Lamalera untuk mengikuti misa perdana. Orang-orang heran karena ada anak Lembata yang jadi imam, dia buat bagaimana? Setelah libur, saya mendapat penunjukan untuk studi. Ozias Fernandez ke Roma. Saya dan Markus Malar ke Jawa. Kami datang ke Jawa sebagai orang baru, lingkungan baru, semua gunakan bahasa Jawa. Tapi untung di Universitas Indonesia ada pastor-pastor sehingga kami merasa baik. Kami harus belajar bahasa Jawa Kuna, bahasa Arab dan hal baru lainnya. Hal buruk adalah ijazah berupa sertifikat dari Seminari Tinggi Ledalero ditandatangani Rektor. Ijazah itu tidak diakui karena sekolah pemerintah maka harus ada ijazah SMA. Jadi kami harus ikuti ujian SMA. Maka kami beli buku ilmu bumi dan sebagainya untuk belajar agar bisa ikut ujian untuk dapat ijazah SMA. Makan waktu 6 bulan. Saat kuliah di UI, saya merasa terbantu karena para dosen bisa dihubungi dengan cepat dan bisa berbahasa asing khususnya Belanda sehingga saya sangat terbantu untuk belajar Bahasa Indonesia.

Bapak pernah menjadi pastor tentara dan mendampingi TNI di Padang?

Sebelum selesai studi di Jakarta, tahun 1957, saya ikut mendampingi tentara yang berperang di Padang, Sumatera Barat. Saya berpakaian serdadu dengan lencana di lengan kiri dan kanan dengan pangkat Mayor Tituler tapi tidak pegang senjata. Sampai sekarang saya belum diberhentikan sebagai pastor militer. Saya merasa aman selama di Padang. Pimpinan kami adalah Jenderal Achmad Yani. Saya tinggal di Pastoran Paroki St. Theresia dengan para pastor asal Italia. Saya hanya satu kali ke medan perang. Malam hari, bunyi tembakan terdengar karena kita mau kuasai lapangan terbang. Saya di medan perang selama dua bulan dua minggu lalu pulang ke Jakarta karena harus melanjutkan studi.

Setelah selesai studi, Bapak jadi guru di Seminari Mataloko?

Setelah ujian, saya dapat kabar dari Flores bahwa saya harus segera pulang karena dibutuhkan guru Bahasa Indonesia di Seminari Mataloko. Akhir tahun 1959, saya mengajar Bahasa Indonesia di Seminari Mataloko. Waktu itu ada perpindahan Uskup Gabriel Manek dari Larantuka menjadi Uskup Agung Ende. Ada “politik” di dalam SVD agar orang pribumi mengambilalih pimpinan gereja. Tahun 1962, saya mendapat penempatan sebagai Direktur Seminari Mataloko dan General SVD mengangkat saya menjadi Rektor Seminari Mataloko. Pada tahun 1965, ada tawaran ke Nemi, Roma. Kami adalah kelompok pertama yang mengikuti program di Nemi. Kami berangkat bulan September dan sampai di Eropa terjadi peristiwa G 30 S/PKI di Jakarta. Saat pulang, saya jadi prefek di Mataloko. Waktu itu SMA sedang dibangun dan gedung belum selesai. Pater Boumans jadi rektor. Saya memimpin SMA dan berusaha membangun lingkungan yang indah dan baik. Saya rasakan itu sebagai sukses yang besar pada zaman itu. Anak-anak yang saya pimpin selama lima tahun di Mataloko, sekarang ini punya posisi yang sangat bagus. Mereka ini membentuk satu kelompok yang mengatakan bahwa saat saya memimpin, ada sebuah masa yang menyenangkan dan menguntungkan mereka. Ada yang jadi imam tapi mereka yang keluar memiliki posisi yang bagus. Ada yang menjadi jurnalis, penulis, anggota dewan dan duta besar. Saya berpikir, boleh jadi metode yang saya pakai waktu itu tidak ditetapkan tapi saya gunakan bakat-bakat saya untuk membuat mereka merasa bahwa kami sudah dapat apa yang kami perlukan dan kalau tidak jadi Imam, kami bisa jadi orang yang punya posisi baik di tengah masyarakat.

Bagaimana Bapak memulai karya di Penerbit Nusa Indah dan SKM Dian serta Kunang-kunang?

Selepas dari Mataloko, saya ke Ende dan bertemu dengan Pater Heinz Neuhaus SVD. Pater Neuhaus mengatakan kepada saya bahwa dia bekerja di percetakan tapi tidak mencetak apa-apa. Kita mesti buat sesuatu yang menggerakkan percetakan sampai pada penerbit. Akhirnya saya omong Regional waktu itu (sekarang provinsial) bahwa saya tidak perlu melanjutkan studi dan saya mau menggarap usaha percetakan ini meski saya tidak punya pengetahuan atau pendidikan khusus tentang semua ini. Selama beberapa malam kami ngobrol dan akhirnya saya tergoda. Memang ada satu toko buku kecil dari Br Vitalis, Nusa Indah tapi bukan hasil dari penerbit tapi apa yang kita buat untuk memenuhi kebutuhan umat lalu dicetak dan dijual. Neuhauz mengajak saya mendirikan satu penerbit. Saya belum ada ide sama sekali saat itu. Saya ke Jakarta omong-omong dengan Marcel Beding dan disetujui. Kami mulai susun satu rencana kerja penerbitan buku-buku untuk Nusa Indah. Saya mulai membangun hubungan dengan penulis-penulis di Jawa. Kami cetak kamus Jawa Kuna. Buku Bahasa Indonesia karya Goris Keraf. Ternyata, saya mendapatkan banyak bantuan dari teman-teman seperti Thom Wignyanta. Saya senang sekali bahwa kita membangun lembaga itu berjalan dengan sangat baik dan berhasil dengan mencetak banyak buku. Saya mendapat kesan bahwa para misionaris asing sangat menghargai hasil percetakan berupa buku-buku. Kebanyakan dari para misionaris asing itu bekerja di paroki-paroki yang kala itu sangat membutuhkan buku-buku rohani untuk pemberdayaan umat seperti buku Sembahyang Baru dan Bapa Kami yang sangat laris kala itu. Juga buku-buku terkenal seperti karya Goris Keraf berjudul Tata Bahasa Indonesia yang laris dipakai di seluruh Indonesia. Kemudian saya berpikir bahwa melalui buku ini saya belum sampai pada masyarakat biasa karena mungkin mereka rasa harga buku mahal dan belum punya pemahaman yang benar tentang buku.  Maka saya bikin pers. Setelah belasan tahun Bentara berhenti, kami mulai SKM Dian. Syukur bahwa Dian bisa hidup selama 25 tahun. Cukup banyak yang bisa dikerjakan. Lalu kita teruskan jalan itu hingga Flores Pos. Kami juga menerbitkan Majalah Bulanan Kunang-Kunang untuk anak-anak. Saya harap bahwa Kunang-Kunang jangan sampai kehilangan rohnya. Dia membawa terang bagi anak-anak. Jangan tulis hal-hal yang terlalu jauh dari jangkauan anak-anak kita. Anak-anak kita di sini tidak sama dengan anak-anak di Jawa. Saya pernah pesan Kunang-Kunang selama 1 tahun dan saya lihat dari Januari-Desember dan saya katakan, jangan-jangan Kunang-Kunang tidak jadi majalah Kristen lagi tapi jadi majalah umum saja. Utamakan pewartaan kita. Anak-anak juga mesti baca dan dengar pewartaan kita. Itu kan medium kita. Kita jangan tiru majalah-majalah lain. Sekarang ada teknologi yang lebih bagus dengan warna segala macam. Pergunakan itu sungguh-sungguh untuk membawa warta Injil itu.

Selama berada di Biara Arnoldus Larantuka, apa  yang Bapak kerjakan?

Saya ditawarkan melayani SVD waktu itu dengan kerasulan media khususnya Arnoldus Nota, surat kabar SVD. Saya lihat waktu itu kebutuhan yang penting karena soal Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman dan kita punya frater belum sanggup. Saya pindah ke Larantuka untuk menggarap itu selama satu tahun untuk melayani kebutuhan internal kita. Lalu saya mendapatkan kepercayaan untuk menerjemahkan dokumen-dokumen serikat yang banyak dari Bahasa Jerman dan Inggris yang sekarang sudah diserahkan kepada tim sendiri. Saya terjemahkan naskah-naskah lain untuk buku. Saya sendiri lebih tertarik menerjemahkan naskah-naskah yang bernilai sejarah. Saya lihat sejarah kita kaya sekali. Mulai dari mengambil daerah misi di Indonesia khususnya daerah misi Flores yang subur sekali dengan panggilan. Banyak sekali teman-teman yang mengambil bagian dalam sejarah itu dan menghasilkan karya besar yang pantas untuk dikenang. Banyak hal baik yang muncul dari Pulau Flores yang kecil ini tersebar di seluruh Indonesia melalui majalah dan buku. Saya tertarik dengan sejarah serikat kita di Pulau Flores ini menjadi suatu model yang menarik pemuda-pemuda menjadi misionaris. Misi kita menjadi sebuah kegiatan yang sangat menarik. Para misionaris asing sangat berjasa melanjutkan sejarah serikat yang didirikan Arnold Janssen melalui karya-karya misi yang hebat dan luar biasa di Pulau Flores ini. Misionaris-misionaris itu begitu berjasa dengan meninggalkan begitu banyak cerita tentang pengalaman mereka yaitu bagaimana para misionaris itu melayani orang-orang biasa yang tidak tahu baca dan tulis, makan sirih pinang saja dan sekarang sudah sangat maju. Para misionaris itu sangat berhasil membangun Pulau Flores ini sebagai sebuah daerah misi.

Penghargaan dari PWI NTT sebagai salah satu tokoh pers NTT

Bapak sekarang ada di Biara Simeon. Apa yang bapak alami dengan tempat yang baru ini? Bagaimana dengan kesehatan?  Pekerjaan membaca dan menulis?

Saya ada mata yang kritis juga lihat keadaan di sini. Di Larantuka, saya duduk di pantai, lihat laut, lihat kegiatan di kota. Lain halnya di sini, di gunung. Baru-baru saya sakit tiga hari, selesma keras karena di sini angin gunung. Saya setengah mati tapi sekarang sudah sedikit reda. Tempat kerja juga sangat mendukung aktivitas dan dekat dengan bruder perawat sehingga bisa menjaga saya. Terkait kesehatan saya, syukur kepada Allah. Beberapa waktu lalu kami periksa kesehatan ke Mahardika Maumere dan hasilnya luar biasa bagus. Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Tentang kesehatan, saat ini saya tidak ada keluhan. Makan juga sangat baik. Mengenai kerja, saya sudah beritahu banyak orang bahwa pekerjaan saya teruskan karena tanpa ini bisa jadi saya mati lebih cepat. Pekerjaan saya ini telah menjadi bagian dari hidup dan juga karena ada bahan yang tidak langsung diterbitkan tapi dari Br. Petrus Lang yang menyediakan bahan sejarah misi dari Larantuka selama Jesuit sampai penyerahan kepada SVD. Saya menerjemahkan itu mula-mula dalam bahasa Belanda sebanyak 9 jilid. Dia sendiri yang pergi ke Jakarta dan mengambil semua dokumen ini dari arsip Jesuit. Semua bahan diketik dengan mesin ketik. Saat kembali ke Belanda, Br Petrus Lang menyerahkan semua naskah itu kepada saya untuk diterjemahkan. Saat di Larantuka, saya minta Pater Kramer SVD untuk menerjemahkan tapi dia pakai mesin ketik. Saya minta dia gunakan komputer tapi dia tidak bisa. Akhirnya saya minta orang di percetakan untuk mengetik kembali terjemahan Pater Kramer dan semuanya sudah ada di dalam komputer sehingga saya bisa mengoreksi dan membacanya.

Pater menerjemahkan surat-surat tulisan tangan para misionaris SVD yang berkarya di Lembata?

Tulisan tangan para misioanris SVD yang berkarya di Lembata, sebagian sudah saya terjemahkan tapi sebagian lagi saya serahkan kepada beberapa dosen asal Lembata untuk dikerjakan tapi saya tidak tahu perkembangan sejauh mana sampai sekarang ini. Sebagian tulisan itu dalam bahasa Jerman. Bahan-bahan itu sebenarnya bisa bercerita tentang Pulau Lembata tempo dulu. Terkait dengan ini, sebenarnya telah terbit buku saya di Jakarta dengan judul: Lamalera Bafalofe (Pintu Gerbang). Bahannya itu kerja Pater-Pater Jesuit selama 30 tahun, mulai dengan permandian orang pertama di Lamalera sampai penyerahan kepada SVD tahun 1920 ke tangan Pater Bernard Bode SVD. Buku ini mesti terbit dulu. Terutama menjelang 100 tahun SVD hadir dan berkarya di Lembata tahun 2020 ini.  (*)

Penulis adalah Imam SVD dan Jurnalis

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *