Vladimir Putin: Antara Benci dan Cinta Yang Paling Agung

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Cara pandang dan sikap mental yang positif  akan menciptakan jauh lebih banyak keajaiban, ketimbang obat-obatan mana pun”

Bacaan Lainnya

(Patricia Neal, Artis Amerika, pemenang Academi Award, 1926 – 2010)

Putin – Rusia yang Semakin Tak Terkendali?

Diskursus itu sebenarnya sederhana saja. Tetapi, ia berubah jadi agak berat. Memang di satu kesempatan makan siang komunitas, saya sengaja ‘angkat-angkat Putin.’

Presiden Rusia itu luar biasa untuk mengutip ayat Alkitab dalam pidatonya. Ia juga sering meminjam ayat Al Quran untuk seruan-seruannya. Saya tahu bahwa pasti saya diserang balik oleh kawan-kawan di meja makan. Sebab saya sudah lemparkan satu tema api. Sedikit umpan terobos untuk bikin emosi. Tapi ditanggapi rasional.

Tragedi kemanusiaan boleh terjadi di Ukraina. Namun, Putin tetap merasa ‘suci lahir batin.’ Tak ada yang salah dalam kepastian membombadir para saudaranya sendiri di Ukraina itu. Sekian banyak alasan politis telah dibentangkan. Rasionale psikologis popularisme pun bisa dipahami. Saat sekian jelas bahwa Putin kiranya kini lagi menanjak dalam posisi dan kariernya.

Di Jumat lalu, 18 Maret 2022, Putin naik panggung di Stadion Luzhniki, Moskow. Kenangan delapan tahun pencaplokan Krimea dari Ukraina mesti dirayakan. Bagian dari ujung timur Eropa itu telah dibebaskan dari cengkraman Ukraina, yang didakwah Rusia telah beraura Nazism yang kental dengan ancaman dan aksi seram genocida.

Rusia telah tampil sebagai pendekar pembebas dan pahlawan perdamaian. Putin telah tampil gemilang di stadion berkapasitas 81.000 kursi itu. Gelora patriotisme dibangkitkan. Disinyalir tumpah ruah rakyat padati stadion dengan kibaran lautan bendera Rusia.

Inti dari semuanya adalah betapa Rusia mesti bersatu teguh. “Bahu membahu untuk saling membantu dan mendukung,” kata Putin.

Tak sekadar sebuah dukungan sederhana bagi para prajurit penggayang Ukraina. Bahu-membahu itu mesti lebih solid lagi. Demi tetap nyaman walau dikepung sanksi sana-sini. Rusia yang jaya dan gagah perkasa adalah Rusia tetap eksis walau dalam perbagai tekanan.

Kitab Suci: Ladang Tafsiran

Di sela-sela pidato membara itu, Putin masuk ke ‘bilik Alkitab.’ Teringatlah Putin akan kata-kata Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Kata-kata itu dikutip dari Injil Yohanes pasal 15 ayat 13.

Sebab itulah Putin percaya diri, “Anda tahu, saya ingat kata-kata dari Alkitab. Tidak ada kasih lain selain jika seseorang memberikan nyawa untuk teman-teman mereka.” Kata-kata bernafaskan Alkitab sepertinya tidak perlu mesti hanya terdengar dari mimbar gereja atau di Lapangan St. Petrus di Roma. ‘Spirit biblis’ bukanlah hak paten untuk berbagai sumber demi siraman rohani yang tiada jemuhnya. Kremlin pun merasa berhak memakai Alkitab.

Putin merasa tak penting untuk pahami teks dan konteks isi Alkitab itu. Apalagi bila harus belajar bahasa asli di zaman Yesus. Tafsiran Alkitab ‘kontemporer’ sudahlah cukup, walau dituduh berbau politisasi Alkitab. Artinya, betapa ia membenarkan kematian sia-sia dan mengamini tragedi kekerasan. Dan itu dalam ‘iluminasi Alkitab.’

Bersalahkah Putin?

Tetapi, mungkinkah bahwa Putin lagi membuka tabir kisah-kisah dehumanisasi atas ilham Buku Suci yang pernah atau tengah terjadi? Bukankah darah, kekerasan dan perang adalah kisah-kisah nyata Alkitab? Dan bahwa demi nama Allah, kisah-kisah pembantaian itu sering dibenarkan atau bahkan dihalalkan?

Jika Putin didakwah sebagai penjahat perang, maka pertanyaannya adalah ‘kejahatan apa yang telah dilakukannya?’ Oleh dunia, Rusia di bawah kendali Putin, kini telah jadi sebab dari bencana kemanusiaan. Namun, bernaung di bawah payung Injil Yohanes 15:13, sebuah ‘tafsir suci heroik patriotik’ dibentangkan. Gugurnya prajurit Rusia bemakna martirium. Sebab di situ ada tesis penyerahan diri total demi empati kemanusiaan pula.

Sebuah kasih agung telah nyata dalam kematian yang mematikan! Membenarkan darah dan kekerasan atas dasar Kitab Suci tak dapat dibenarkan. Tuhan tak pernah amini dan benarkan kekerasan! Pada manusia terdapat kehendak bebas dan hati nurani yang seringkali ditikungi oleh kelemahan kehendak.

Pikiran yang tak lurus, hati nurani yang pengap serta aspek volutif yang lemah bisa menggiring manusia untuk tergenlincir dan terjerembab pada berbagai perlengkapan senjata maut. Dan semuanya berujung pada derita dan kematian. Dehumanisasi, dalam terang kristen, tak pernah bertolak dari Firman Tuhan sebagai imperasinya.

Kitab Suci: Bergema atas Tafsiran di atas Tafsiran?

Bagaimana pun sejarah kiranya telah buktikan bahwa nafsu menjajah dan menguasai membenarkan segala jalan, pun atas nama ‘Firman Tuhan.’ Persoalan seperti ini tentu terletak pada kuat-lemahnya interpretasi itu sendiri. Tetapi, apakah yang disebut interpretasi itu? Apalagi yang berhubungan dengan Kitab Suci?

Saat Putin ‘menafsir parafrase Injil Yohanes 15:13 itu apakah dunia merasa geli dan aneh? Dan itu tentu mesti dijelaskan. Setidaknya Putin tak hanya obrak-abrik kedamaian di Ukraina. Dia lagi maen serobot ke dalam dunia ‘sakral.’ Ia tanpa beban bersenggolan dengan ayat Kitab Suci.

Maka, mestikah Putin dikenakan pasal hukuman penistaan agama? Dan mestikah para pemuka agama kristen, misalnya, merasa terpanggil untuk gerakan demo berjilid-jilid ke Kremlin? Ini tentu hanya mimpi yang mengada-ada. Tetapi Putin sudah benar. Dia telah menghafal teks, dan melanjutkannya dengan satu tafsiran. Sebab sebuah teks mengharuskan satu tafsiran. Soalnya?

Namun tak cuma itu! Apakah tafsiran si Putin itu bersenyawa dengan teks? Sebab toh, Putin tak boleh secara sepihak membenarkan tafsirannya sendiri. Dan lalu ia memaksakan kehendaknya. Tetapi itulah yang telah terjadi. Tafsirannya yang dirasa ‘benar’ itu justru menebalkan petaka mengerikan. Satu tafsiran yang tak pedulikan tafsiran lainnya.

Tetapi, sejatinya, agama bukan hanya soal Kitab Suci serta tafsir-menafsirnya, yang selalu tak pernah berujung. Tuhan mesti juga dicari, dimuliakan serta disembah dalam gerakan hati yang tulus dan terbuka. Dalam doa, bersedekah dan berpuasa yang jauh dari kegaduhan serta dari segala kebisingan.

Akhirnya…

Tuhan mesti dijumpai pula dalam diri sesama yang “lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit, dalam penjara..” (cf Mat 25:35-40). Membenarkan tafsiran sendiri sambil menyebabkan petaka bagi hidup terhadap sesama, pun tanpa kepedulian, itulah bencana iman yang terpasung dalam agama.

Maka, mestikah kita mengamini Putin bahwa ‘yang mati sahid di Krimea pun di Ukraina adalah sebentuk dharma agung nyawa demi kasih terhadap saudara-saudaranya?’ Dan pada saat yang sama porak-poranda segala sesuatu dan lahir duka derita dalam skala besar?

Di titik ini, ada bagusnya bila diskusi mesti ditahan dalam rehat sejenak! Renungkanlah apa yang dikontemplasikan Kahlil Gibran, “Kebijaksanaan berhenti menjadi kebijaksanaan ketika menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, terlalu egois untuk mencari selain dirinya sendiri.”

Benarlah si Gibran itu! Terlalu merasa angkuh, serius (jarang senyum), dan egois sungguh menjadi rahim yang melahirkan prahara. Di mana-mana! Tak cuma di Ukraina….

 Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro, Roma

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *