Timnas Iran: Di Satu Kemenangan yang Berkabut

Oleh P. Kons Beo, SVD

Sungguh menyebalkan! Bila mesti bertandang ke satu kondangan tanpa rasa nyaman sedikitpun. Penuh aturannya. Dan yang lebih ‘mematikan’ lagi, jika di pesta itu, auranya mesti terpantau ketat. Ibarat ayah yang beri ‘kebebasan pada sang anak ke pesta raya.’ Namun, diam-diam sang ayah sertakan pemantau nan ketat. Demi awasi segala kata dan gerak sang anak. Ini sungguh membunuh kebebasan. Dan itulah yang terjadi terhadap Timnas Iran.

Bacaan Lainnya

Kiranya, Ehsan Hajsafi dkk, Timnas Iran, kini mesti berhati-hati. Diberi kesempatan untuk ‘berpesta’ di Qatar tak serta merta berarti kebebasan penuh bakal didapat. Dan  lagi harus dinyatakan sesukanya. Tidak seperti itu. “Intelijen Cokok Pemain Timnas Iran di Piala Dunia, Walau menang dari Wales.” Itu judul yang terbaca dari berita. Apa sebenarnya yang terjadi?

Kini, Timnas Iran bagai sejuta benang rasa yang terbelit dalam dirinya sendiri. Sepakbola sungguh tak bebas dalam dirinya sendiri. Ia tak boleh sesukanya ungkapan rasa begitu saja. Walau, semuanya berangkat dari kenyataan. Tetapi, sepakbola haruslah tetap ‘sepakbola murni.’

Dan semua yang terjadi di hari-hari awal ini, tampak tak dipeduli Timnas Iran. Pemerintah tersinggung berat jika situasi dalam negeri dibawa-bawa hingga dalam stadion. Maksudnya, “Urusan dalam negeri, tetaplah urusan rumah tangga kita sendiri. Tak perlu diuar-uar di pesta akbar yang menyedot atensi publik mondial.”

Biarkan api Mahsa Amini, jilbab, dan polisi moral tetap berkobar. Tapi itu hanya berlaku  di area internal. Tak perlu dipertontonkan ke publik dalam simbol apapun. Regim Iran bakal tak peduli entah seperti apa hasil perjuangan timnasnya. Yang terpenting, haramlah untuk terkonek dengan isu-isu politik dalam negeri.

Dan, adalah Voria Ghafouri, 35 tahun, (mantan) bintang Timnas Iran yang mesti dibungkam. Ia memang terang-terang punya rasa simpati pada keluarga Masha Amini. Dia gencar dalam propaganda menekan pemerintah. Agar hentikan kekerasan terhadap perempuan di negaranya. Keberaniannya berujung pada harga mahal yang mesti dibayar. Ia diamankan pihak intelijen Iran atas titah regim.

Apa yang terjadi sebenarnya di keramaian sebuah stadion? Terlebih di perhelatan akbar sepakbola selevel Piala Dunia? Jelas ada timnas yang ingin tunjukkan kejagoan dan kelayakannya di level itu. Ada suporter yang datang ingin membarakan semangat timnya. Ada agen-agen klub elitis memantau ‘bintang-bintang bersinar di Piala Dunia.’ Tetapi, tak lupa, masih ada agen-agen rahasia dari regim yang ‘bemata elang demi memantau mangsa yang membandel.’

Di hari kemarin, Iran berjaya. Ia tak melempen lagi seperti ketika hadapi Inggris di pertandingan perdana Grup B. Iran telah bangkit dalam semangat. Mungkin itu bentuk compassionate yang tepat terhadap gemuruh perjuangan dan gelombang protes di jalanan melawan pemerintah!

Wales mesti menyerah 0 – 2 di tangan Iran. 10 pemain Wales tak berdaya untuk akhirnya harus menatap sendu gol Cheshmi dan Rezaeaian di injured time. Gareth Bale tertuntuk lesu. Hari kemarin itu, Iran benar-benar di ‘atas angin.’  Kini, setidaknya sudah ada modal kuat untuk nanti hadapi Amerika Serikat pertandingan akhir penyisihan group.

Tetapi, tafsirkan saja begini. Seperti apa rasa hati yang bekecamuk di dada para pemain Iran? All out, namun dalam tekanan pantauan? Atau ‘tetap saja malas tahu’ ungkapkan rasa yang tak terbendung? Dan walau itu riskan? Sepertinya Timnas Iran ada di pusaran arus simalakama. Kalah atau menang tetap ‘sama saja.’ Jika menang sekali pun, di situ tetap ada suasana hati penuh tawar. Tanpa rasa!

Tetapi, Timnas Iran harus bermental fight sejadinya. Itulah simbolisasi perlawanan terhadap hukum, kebutaan hati polisi moral, dan regim yang masih saja tega menekan sejadinya rakyatnya sendiri. Dan itu, sudah terbaca menderang saat menghabok Wales kemarin.

Namun, betapa malang sesungguhnya para pemain Timnas Iran. Hanya di stadion dan di kesempatan pertandingan sajalah, mereka dapat tumpahkan segala rasa di hati. Di hari-hari ini, yakinlah Timnas Iran akan bertarung sejadinya. Demi mencapai prestasi sekiranya melampaui target.

Dan bila itu yang terjadi, pasti akan jadi modal tebal untuk satu keramaian yang lebih menghebohkan lagi. Di sini, tidakkah regim Republik Islam Iran mesti ekstra waspada sekiranya ‘tersusup’ nantinya gelora arwah Masha Amini cs yang bikin suasana lebih mencekam? ‘Pulang lebih awal dari Pesta Piala Dunia’ bisa terjadi itulah harapan Penguasa Iran bagi timnasnya.

Akhirnya, di bincang-bincang sederhana tentang Iran vs Wales, teman saya bilang, “Teman, itu bedanya antara pesepakbola dan seorang politisi. Pesepak bola bicara dan ungkapkan rasa sebatas stadion dan waktu pertandingan saja. Dan ia harus berhati-hati dengan topik yang serasa alergi bagi penguasa. Enaknya politisi, dia punya banyak waktu dan tempat di mana dan kapan saja untuk bersuara tentang apa saja. Tak peduli apa semua itu sesuai kenyataan atau sekedar hambur-hamburkan kata begitu saja.”

Di percakapan sederhana ini, saya dan teman saya sepakat. “Betapa beruntungnya Pak Anis Baswedan. Walau bermodal hanya 5 tahun pimpin Jakarta, ia sungguh percaya diri dan  kini punya banyak waktu dan kesempatan untuk bersafari ke mana-mana demi jual kelayakannya sendiri jadi 01 RI.”

Sungguh, Voria Ghafouri dan Anis Baswedan tak cuma beda tempat dan situasi. Tetapi terutama beda nasib juga. Ya, itulah hidup. “Hanya Tuhan yang tahu pasti. Apa gerangan yang bakal terjadi lagi. Di Iran dan di Tanah Air.”

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *