Puasa: Saatnya Mesti Mendengar Suara Langkah Kaki Tuhan

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Tuhan lebih dekat dengan kita daripada air bagi seekor ikan” (St Katarina dr Siena, Siena/Italia 1347 – Roma 1380)

Bacaan Lainnya

Di Saat Hening Terjaring Bising

Ramai. Sibuk. Tergesa-gesa. Panik. Padat acara. Itulah gambaran dunia kini yang tak pernah sepih. Lebih cepat lebih baik memacu kita untuk segera ambil sikap dan keputusan. Dan lebih dari itu, sigap bertindak telah dipandang sebagai eksekusi nan bijak. Tidak kah hidup itu berkecepatan sambil terkepung oleh lalu lintas berjejal ramai?

Mungkin lebih baik tak bicara hanya sebatas lajunya irama hidup. Dalami pula arus batin yang juga sering bikin jantung berdetak tak menentu. Tugas ini belum selesai, yang satu ini dan itu sudah menanti. Hidup ini pun sepertinya bagai arus utang harian, “dilunasi hari ini dan mesti berutang memang hari ini juga.” Sebab, hidup tak boleh ditekan oleh kemendesakan kebutuhan yang tak bisa tertunda.

Mari selidiki pula riak-riak emosi oleh aura rumah tangga tak stabil saat ‘makin berkurang isi dapur, listrik yang nyalanya onar-onar, air yang sering macet tanpa info pasti kapan jalan lagi, kredit ini itu dan utang sana sini yang mesti dilunasi, ada lagi berbagai tuntutan adat yang mesti ditanggapi, masih ada lagi yang berbunyi ‘undangan’ namun sebenarnya hati sudah diborgol untuk wajib datang dan tunjuk muka, ada pula hasil panen yang tak terancam gagal, hingga gajian yang masih kabur kapan si bendahara urus jelas sesegeranya.

Ini belum lagi bicara seputar jalur perelasian. Benar, tanpa sesama, kita tak akan pernah bisa bertahan dan berkembang dalam hidup. Sebaliknya, bukan kah kita jadi tertekan, tak nyaman dan panik, saat relasi itu telah jadi sumpek oleh suasana kabut tebal tak menentu di hati?

“Tidak baku enak, tidak baku omong, tiada saling menyapa, saling menghindar, tak ada lagi saling kunjung” sudah jadi kisah dan cerita hati yang luka di hari-hari ini. Sebab, semuanya seperti mengamini seruan, “jangan datang atau titip salam. Hanya menambah luka di hati ini…”  Segala kisah kasih yang pernah ada, katanya, mesti dihapus. Pusing jadinya!

Ternyata Kebisingan Menjadi Semakin Gaduh

Tetapi, adakah sebuah jalan sunyi, damai dan tenang, untuk berteduh hati? Agar semuanya dapat dilihat dengan lebih sejuk nan damai? Tanpa ditekan kepanikan penuh ketergesaan, yang hanya berujung  damai dan tenang ‘yang seolah-olah’?

Mari sepakat dengan pengamatan ini. Lihatlah, dalam situasi penuh redup, banyak penolong ingin tampil heroik! Para konselor dengan tips-tips mujarab sepertinya cekatan tawarkan satu dua jalan keluar instan. Belum tahu seperti apa duduk soalnya, para penasihat sudah tampak bijak dan sudah tiba duluan pada ‘langkah taktis praktis’ yang harus segera diambil. Dan ternyata, kebisingan malah semakin menekan dan lebih gaduh.

Tentu tak hanya itu. Bahkan bisa saja, sekian banyak sharing spiritual  yang deras mengalir menggebu-gebu pun ternyata sering justru jadi tanda ketidakpedulian. Sebab, narasi spiritual yang sekian melangit acapkali justru mengejek-ejek yang terjadi nyata di bumi yang berputar. Embun rohani dan siraman spiritual yang over-surplus bisa juga membuat akar pohon kehidupan  jadi lembek dan bahkan membusuk. Sebab, ‘keramaian jasmani’ pun ‘keramaian rohani’ tetaplah keramaian yang menjemuhkan.  Lalu ke manakah kita?

Saatnya Berziarah Diam Dalam Tuhan

Puasa tetaplah jadi sebuah dinamika panggilan berjalan sunyi bersama Yesus. Benar, bahwa kekristenan  bentangkan keyakinan akan betapa indah mempesona dan kokohnya hidup itu bila  sungguh mendengarkan suara Tuhan yang memanggil! Tetapi, puasa mesti juga menjadi alam sunyi yang ‘gaduh untuk berteriak memanggil Nama Tuhan.’

Dunia memang sekian ramai dan terjejal oleh perbagai kesibukan. Tetapi, sebenarnya, dunia sungguh ‘senyap’ oleh karena kehilangan suara memanggil Tuhan. Tuhan perlu pula digugat. Walau sekedar  untuk bertanya padaNya tentang segala apa yang tengah terjadi. Tuhan perlu juga ‘ditarik dan ditahan’ tanganNya. Agar Ia berjalan seirama rasa hati kita. Iya, irama hati kita manusia yang tengah mengalami dan merasakan kisah-kisah nyata di kehidupan ini.

Tuhan perlu juga ‘dipaksa menangis’ seperti Ia sungguh tangisi kematian Lazarus (Yoh 11:35). Tuhan mesti pula meratap bersama kita, seperti Ia meratapi kemegahan kota Yerusalem, (Luk 19:41) yang bakal runtuh, dan ‘tiada lagi satu batu yang tersusun di atas batu yang lain.’ Tuhan mesti ulangi kembali lembaran kisah hati penuh belaskasihNya akan yang ‘sakit, lapar, haus, dan tersisihkan. Iya, akan semua yang bagaikan domba tak bergembala..’

Tetapi, ini semua sama sekali tak berarti bahwa kita menuntut Tuhan untuk  bersegera datang. Dan secepatnya Tuhan mesti tampil sebagai ‘pahlawan pemecah masalah.’ Tidak! Kita sungguh rindukan Tuhan untuk hadir sebagai ‘Sahabat yang berjalan bersama.’ KepadaNya kita hanya ingin berkeluh, pun kepadaNya kita lantunkan nyanyian hati kita yang berbunga-bunga. Dengan wajah ceriah, dan dengan ‘rambut yang diminyaki.’

Berjalan bersama Tuhan dalam sunyi dan dalam diam ‘ternyata banyak maknanya. Setiap sudut kehidupan dapat kita lihat.’ Bahkan untuk sanggup menerobos masuk ke kedalaman diri kita sendiri. Terang dan jelas. Bahwa ternyata, kita sudah berlangkah tanpa kompas. Tiada arah. Tak jelas tujuan. Kita bisa melaju dalam hidup namun tanpa memeluk nilai. Kita sungguh melangit yang ternyata hanya bertumpuhan kaki pada gumpalan awan gemawan. Tak kokoh!

‘Tuhan Memang Perlu Dijebak

Tuhan pasti merapat singgah di hati kita. Tetapi, kita mesti ‘menjebak dan menangkapNya’ di ruang kosong hati kita. Tuhan pasti singgah di pesta kehidupan kita, andaikan kita sungguh mengundangNya dan kita benar-benar jadi penerima tamu penuh senyum.  Dan di hari-hari duka penuh perkabungan dan tak beruntung, Tuhan pasti datang, walau cuma untuk menyeka air mata pilu di pipi. Sebab, Tuhan pasti ikuti irama hati kita yang tersayat perih.

Maka puasa, sepantasnya jadi area kosong, hening penuh sunyi. Kita lepaskan dan biarkan berlalu segala yang bikin sibuk, ramai, tergesa, terkejar, huru-hara, terburu-buru, dan bertubi-tubi.

Dan Berbunyilah Suara Langkah kaki Tuhan…

Di taman Eden, Adam dan istrinya bersembunyi dan takut pada Tuhan. “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan istrinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohon dalam taman” (Kej 3:8).

Puasa sepantasnya jadi alam tersembunyi nan tenang. Bukan untuk lari tinggalkan kenyataan hidup yang berat. Bukan untuk hindarkan diri dari kepahitan hidup dan duka lara. Bukan untuk bebas dari rasa peduli akan suara jerit pilu tangis isak sesama. Bukan pula untuk membangun rasa nyaman yang narcistik. Bukan!

Puasa adalah jalan kosong spiritual yang mesti kita lalui. Agar kita dapat belajar untuk menangkap bunyi langkah kaki Tuhan. Tuhan yang justru datang mendekati dan mencari kita, sebagaimana Ia mencari manusia pertama dan istrinya itu. Biarkan diri kita,  di momentum puasa ini, dijumpai oleh Tuhan. Lalu, di dalam dan bersama Tuhan, kita kembali lanjutkan perjalanan hidup ini sebagai manusia bercitra. Penuh peduli pada sesama. Dan dalam penyerahan diri pada Tuhan sendiri.

Akhirnya….

Mari lambungkan sepotong doa penuh makna. Bagi saudara-saudari kita di perseteruan penuh darah dan  air mata duka: Ukraina dan Rusia. Dalam kegaduhan mesin-mesin pembunuh dan suara desingan tembakan. Semoga mereka tetap dikuatkan agar tetap sejuk hati dan teguh iman. Demi tetap menangkap bunyi langkah kaki Tuhan.

Tetapi bisa saja, Tuhan meminta Anda dan saya serta kita semua untuk memperdengarkan suara langkah kakiNya. Penuh harapan dan belaskasih, walau hanya lewat sepotong doa serta buah puasa kita penuh berbelah rasa. (*)

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *