Messi dkk Bersinar di Pusaran Beban Sejarah Perang Malvinas

Oleh P. Kons Beo, SVD

Duel mati hidup itu memang sudah dimulai warming up-nya. Sepertinya para suporter pada tak tahan diri lagi. Ada laga antisipatif yang bikin keruh suasana. Heboh! Baku habok serius pertama pecah di pekan awal Piala Dunia Qatar. “Fans Argentina dan Meksiko Berkelahi di Qatar Dipicu karena Ejek Messi,” tulis  CNN Indonesia. Ada apa dengan Messi?

Bacaan Lainnya

Yang bikin ulah itu, katanya,  datang dari fans Meksiko. Juara Amerika Latin, Argentina, diejeknya melempem. Tak berkutik hadapi Arab Saudi. Kegarangan ejekan suporter Meksiko tak berhenti di situ. Mereka bahkan nekad menyasar Messi. Messi tak sekedar si Pulga biasa. Segala hormat dan pujian jagat sepakbola telah takhtakannya bagai ‘pesepakbola dari planet asing.’

Messi adalah mega bintang! Superstar bola yang buas namun seni penuh akal yang menyihir! Tentu benar komparasi alegoristik, “CR 7 boleh membunuh, tapi si Pulga itu menganiaya.”  Messi sudah gondol ballon d’oro dengan tujuh gelar. Sebab itulah, di usianya yang ke 35 tahun, tanah Argentina dan jutaan pemujanya masih titipkan harapan mendalam pada Messi.

Tetapi, apa jadinya jika memang Messi direndahkan dan dicemooh? Ketika primat heroiknya sebagai ‘dewa sepakbola’ digunduli dengan kata-kata yang sungguh tak beretika? Reaksi massif pasti tak terhindar. Itu yang jadi salah satu sumbu pendek yang segera menyala. Fans Argentina dan Meksiko tercebur dalam adu fisik. Bikin ulah yang tak main-main.

Jangankan soal Messi saja. Masih ada lagi upaya menyasar cita rasa patriotis.  Menyayat luka lama perang Malvinas, adalah bara api ketersinggungan nasional bagi Argentina. Dan fans Meksiko tahu persis itu. Perang Malvinas adalah beban sejarah. Tak terbantahkan. Telah jadi monumen kelam, ketika di tahun 1982 itu Argentina menyerah di tangan Inggris. Tetapi, nyatanya? Yang terbukti di laga pertandingan?

Messi yang dihujat dan Perang Malvinas yang ‘dibangkitkan’ ternyata sanggup diubah dalam gema positif. Setidaknya, itulah yang diperagakan oleh Lionel Messi dkk saat mengkanfaskan Meksiko. Di situ, di Lusail Stadium, justru Messi yang tampil menggila. Ia membungkam suara fans Meksiko di menit 64. Sebiji gol dilesatkan persis di sudut kiri gawang Meksiko. Tak hanya itu, derita Meksiko makin lengkap saat E Fernàndez bikin gol tambahan di menit ke 87.

Kini, Argentina sudah punya asa yang terbaca. Hitung-hitung matematik hingga kini, tak ada Timnas dari Grup  C yang sudah pastikan diri nyaman untuk babak berikutnya. Messi dkk terposisi dengan nila 3 bersama Arab Saudi. Iya, di bawah Polandia yang kantongi nilai 4.

Tidakkah kini perlahan-lahan ‘taring Messi’ kembali menajam penuh ancaman? Dan sebelumnya Messi dkk dibantai Arab Saudi dalam laga yang sulit dimengerti serentak penuh dengan kecurigaan dalam format teori konspirasi. Sebab ada curiga berat, ‘Argentina sengaja dan rela kalah ketika itu.’ Hanya karena ingin hindari diri berjumpa Brazil di pertandingan berikutnya. Akh, benar kah? Biarkan saja berlalu teori konspirasi itu berlalu.

Argentina punya skenario ‘merendah yang pura-pura untuk  bertengger di posisi kedua di Grup C’ agar nanti jangan ‘ketemu Brazil yang peluang besar jadi jawara di Grup C. Terdengar tak sedap memang. Tapi, mari lupakan saja ‘negatif thinking’ yang aneh-aneh ini. Intinya, sekarang Argentina sudah dalam koridor harapan. Dan Messi makin tebalkan jati dirinya sebagai pesepak bola penuh magnet.

Mari kembali ke tesis awal. Mungkinkah sebuah hinaan dan caci maki dapat menjadi awal dari sebuah berkat? Bisakah hal-hal yang menusuk dan bikin sakit hati dikaroseri jadi ‘kemarahan yang positif’? Yang bangkitkan semangat untuk bertarung lebih ‘mati-matian?’ Iya, dapat!

Itulah yang dibuktikan Messi dkk. Blessing in disguise, berkah terselubung, selalu mesti digali dari ‘kisah-kisah yang menyakitkan. Memang sungguh berat untuk meraihnya. Hinaan mesti dijawab dengan prestasi dan keunggulan.

Tetapi, apakah itu yang sanggup dilakoni penuh teduh dan dalam ketenangan batin di peta kehidupan sosial politik di Tanah Air? Kita sepertinya tak peduli lagi pada sasaran kebenaran yang  sama-sama kita tujui. Sinisme dan bahkan sakarsme verbalik sudah sungguh meraja, misalnya, di konten-konten media sosial.

Kita sudah terjebak dalam awal perang kata yang sungguh saling melukai dan merendahkan. “Malvinasiasi,” katakan begitu, memang sudah jamak terjadi. Artinya, ‘yang suram, kelam, gelap,’ adalah prasasti kegagalan dan kekalahan yang langgeng auranya. Dan selalu diulang dan terus dibangkitkan kembali dalam satu kualitas relasi minor penuh benci dan ketaksukaan.

Kita adalah bangsa yang makin hari makin terbiasa untuk bakukan senyatanya: “Biarlah yang hitam menjadi hitam jangan harapkan jadi putih.” Karena ‘yang hitam itu dipastikan tak akan pernah menang lagi dalam apapun usaha pencitraannya.’

Kata teman saya, “Sehebat apapun Roy Suryo bersuara, misalnya, ia akan diseret pulang pada soal ‘sepele’ seputar panci dan seterusnya tetaplah panci; sehebat apa pun Refli Harun, Said Didu atau Rizal Ramli bernarasi, mereka telah dipastikan masuk kotak ‘pecatan’ dan begitu seterusnya dan seterusnya.”

Dan takutnya nanti, kalau-kalau kata “mangkrak” itu tak ditangkap lagi dalam arti yang seluas-luasnya seturut kamus. Tetapi “mangkrak” hanya mati-matian tertuju pada lokus tertentu. Yang jadi setrum dan induk segala kegagalan. Penuh pertanyaan yang ‘jawabannya ada pada angin yang berhembus dan  berlalu.’

Tapi, itu sungguh beda pada Messi dkk yang sudah buktikan sebaliknya. Hinaan dan luka lama kegagalan Perang Malvinas, bisa ditangkap dan diubah sebagai berkah terselubung. Demi kemajuan, perubahan dan  kemenangan!

Verbo Dei Amorem Spiranti   

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *