Gubernur Panen Jagung TJPS di Kodi Yang Dibiayai Bank NTT

TAMBOLAKA KABARNTT.CO– Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Lautan jagung seluas 5.000 hektar di Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang diinisiasi oleh Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), siap panen.

Dan, panen perdana ini dilakukan oleh Gubernur VBL, Selasa (15/2/2022), di lokasi. Hadir menyaksikan momen luar biasa itu, Bupati SBD, dr.Kornelius Kodi Mete, serta sejumlah staf khusus gubernur yakni Prof Daniel Kameo, Prof. Dr. Intyas Utami, Dr. David Pandie, dr. Stef Bria Seran, Imanuel Blegur, serta sejumlah kepala dinas yakni Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan NTT, Lucky Frederich Koli, dan pejabat lainnya. Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho pun hadir di sana.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Gubernur VBL menyatakan kekagumannya terhadap kerja keras, kerja cerdas dari Bupati SBD serta jajarannya yang dimentori oleh Kadis Pertanian NTT Lucky Koli, staf juga mitra.

“Melihat seperti ini tentu siapa pun akan senang. Mulai hari ini, kita ganti nama petani menjadi wirausaha mandiri. Mereka telah menunjukkan kerja-kerja yang luar biasa,” tegas VBL.

VBL menambahkan, lokasi pertanian ini harus terus digarap dan dia berjanji akan mengunjungi lokasi tersebut pada November 2022 nanti untuk menanam lagi 15.000 hektar jagung.

Gubernur VBl menghitung, jika ada 15.000 hektar lahan yang ditanami jagung maka akan menghasilkan jagung yang jika dijual mendatangkan omset senilai Rp. 400 miliar. Karena itu VBL mengharapkan agar pelaku usaha pertanian menjual jagung langsung dengan tongkolnya dan tidak usah menjemur jagungnya lagi.

“Makanya saya justru melihat TJPS ini adalah tanam jagung panen sarjana. Saya himbau, diolah secara baik lahannya agar jagungnya  harus gemuk supaya manusianya jangan stunting. TJPS ini bukan untuk mengentaskan kemiskinan melainkan untuk menyumbang kemakmuran, dan kuncinya adalah petani diberdayakan. Selamat bekerja dengan semangat tinggi agar tahun depan panen lebih hebat lagi,” tutup VBL dari atas panggung darurat di dalam ladang jagung.

Kepala Dinas Pertanian NTT, Lucky Frederich Koli, kepada media ini di Tambolaka menjelaskan bahwa Program TJPS pola kemitraan di SBD ini memiliki lahan eksisting seluas 48.000 hektar.

“Namun kita baru masuk sekitar 5-6 ribu hektar di Kodi. Sekarang tim kita sementara mempersiapkan untuk pada musim tanam kedua di tahun ini, ada 5.000 hektar lagi yang ditanam dan pada Oktober, kita tanam lagi 15.000 hektar sesuai perintah Pak Gubernur,” tegas Lucky menambahkan, terkait rencana ini, pihaknya sudah menyiapkan termasuk calon petani dan calon pembelinya.

Untuk mengeksekusi lahan yang ada, pihaknya membutuhkan anggaran sebesar Rp 150 miliar, dan Bank NTT, menurutnya, sudah menyanggupi untuk mendukung bersama offtaker dalam rangka menyediakan benih-benih unggul, yang punya kapasitas minimal 7 ton/hektar.

“Pupuk, herbisida, obat-obatan, alsintan, yang akan kita konsolidasikan untuk bisa menuju ke penanaman sehingga nanti pada periode 2022 kita bisa hasilkan 25.000 hektar di SBD. Tentu akan berada pada angka kira-kira 250.000 ton jagung yang dihasilkan. Jika dikalkulasikan, harganya berkisar Rp 700 miliar rupiah di tahun 2022, khusus di SBD. Karena itu memang kita butuh dukungan semua pihak terutama stakeholder yang berkaitan dengan skema ini terutama perbankan, offtaker dan teman-teman di lapangan,” tegas Lucky.

Mereka pun akan merapikan skema pasca panennya. Jika nantinya hasil panen banyak sekali dan tidak diatur pola distribusinya maka tentu akan bermasalah. Karena itu stafnya sedang berada di lapangan untuk menyiapkan semua kebutuhan terkait pasca panen.

“Karena tentu kita tidak mau ada pengkhianat di lapangan dalam artian mereka yang menjual hasil panennya kepada pihak lain selain offtaker yang kita kerjasamakan. Ini yang kita akan tata agar nantinya ke depan SBD ini menjadi lokomotif penggerak bagi kabupaten lain di NTT,” tambahnya.

Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho kepada media ini menegaskan bahwa potensi pengembangan jagung di Kodi Utara itu sangat luar biasa. Karena di lahan seluas ribuan hektar, dalam satu hamparan belasan hektar ditunjang aktivitas masyarakat yang luar biasa, ini menunjukkan kekuatan untuk pengembangan budidaya sudah sangat kuat.

Dia melihat adanya kesadaran untuk memanfaatkan lahan yang walau berbatu, namun warga setempat punya semangat yang tinggi untuk memanfaatkan alam.

“Dalam ekosistem ini tinggal ditingkatkan pola ketrampilan, ketersediaan pupuk dan bibit, serta offtaker yang siap. Bank NTT hadir di sana untuk mensupport pembiayaan dalam ekosistem pada wirausaha mandiri yang terlibat dalam sistem TJPS mandiri,” tegas Alex.

Pihaknya setuju digunakannya istilah wirausaha mandiri, karena ada daya dorong, kekuatan dalam berwirausaha dan adanya mitigasi resiko.

Bupati Sumba Barat Daya, Kornelius Kodi Mete dalam sambutannya ketika peresmian Puskesmas Watukawula menegaskan bahwa pihaknya sangat serius dalam mengeksekusi program TJPS mandiri, karena SBD masih memiliki banyak lahan siap garap dan siap tanam.

“Kita bisa menemukan di kebun-kebun, kita bisa menemukan masyarakat yang punya semangat tinggi untuk menggapai masa depan dengan bertanam. Kalau ke Barat SBD ini, kita temukan lagi lahan yang luar biasa. Bahwa dengan menanam jagung kita pasti sejahtera, keluar dari kemiskinan dan TJPS adalah hati kita, kekuatan kita,”  tegas Kodi Mete menambahkan hari ini adalah bukti, bahwa masyakat SBD bisa menyumbang jagung dengan kualitas terbaik di lahan seluas 5.000 hektar.

Untuk diketahui bahwa dalam program TJPS ini, offtaker yang dilibatkan adalah PT. Gama Agro Investama. Merekalah yang akan membeli seluruh hasil pertanian dari program TJPS ini sehingga masyarakat tidak perlu ragu lagi. (*/den)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *