DPRD SBD Minta Fogging Fokus Dan Masif

TAMBOLAKA KABARNTT.CO—Memberantas nyamuk pembawa DBD (demam berdarah dengue) kalangan DPRD Sumba Barat Daya (SBD) meminta pemerintah melakukan fogging dengan fokus di lokasi-lokasi rawan secara masif.

Kabupaten SBD menjadi salah satu kabupaten di NTT yang masuk kategori kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus DBD. Sejauh ini DBD sudah merenggut nyawa 3 warga.

Bacaan Lainnya

DPRD Kabupaten SBD tidak tinggal diam dengan situasi tersebut. Mereka mendukung ditetapkannya KLB pada 8 Februari lalu untuk mengantisipasi menyebarluasnya DBD dan juga sekaligus menekan angka kematian akibat DBD.

Salah satu anggota DPRD SBD, Heri Pemudadi, dihubungi lewat telepon, Senin (7/3/2022) malam, menjelaskan pihaknya tetap aktif melakukan koordinasi dan evaluasi sejauh mana penyebaran DBD di SBD. DPRD juga tetap meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan agar tetap melakukan segala macam edukasi agar masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan dalam menjaga kesehatan keluarga.

“Kita sudah koordinasi dengan pemerintah melalui Dinas Kesehatan untuk melakukan fogging fokus. Dan mereka sudah lakukan beberapa hari terakhir ini dan sambil melakukan penanganan kepada warga yang terindikasi kasus DBD diarahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif,” jelas Heri

“Tim sudah turun ke dusun-dusun. Mungkin untuk penelitian epidemologi, untuk memastikan jentik nyamuk pembawa DBD. Dan jika terdeteksi maka mereka akan melakukan fogging fokus untuk membunuh jentik-jentik nyamuk tersebut,” jelas wakil rakyat dari Fraksi Golkar ini.

Heri mengatakan, kasus DBD paling tinggi terjadi di wilayah Kota Tambolaka.

“Yang tinggi ini di wilayah kota. Kalau di desa memang ada tapi tidak setinggi yang terjadi di kota. Mungkin juga karena didukung oleh musim hujan sehingga perkembangbiakan nyamuk pembawa DBD cukup banyak. Karena itu kebersihan lingkungan dengan 3M itu sangat perlu dilakukan, dan fogging secara masif juga sangat perlu dengan pembagian abate untuk membunuh jentik nyamuk di bak-bak air,” imbuh Heri.

Lebih lanjut Heri mengatakan, pemerintah selain fokus ke kasus DBD karena penetapan KLB, juga sejalan dengan penanganan kasus Covid-19 yang juga meningkat dengan berjalannya waktu. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *