Covid Meningkat, Kota Kupang Menuju PPKM Level 3

KUPANG KABARNTT.CO—Pemerintah Kota Kupang dalam sepekan ini akan menerapkan PPKM (Penerapan Pembatasan  Kegiatan Masyarakat) level 3 sejalan dengan bertambahnya kasus Covid-19 terutama penyebaran secara lokal.

Untuk diketahui per tanggal 21 Februari 2022 kasus Covid-19 aktif di Kota Kupang mencapai 1.043 kasus.  Sebanyak 34 kelurahan sudah masuk zona merah, menyisahkan Kelurahan LLBK yang masih zona hijau.

Bacaan Lainnya

Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man, Selasa (22/2/2022), selepas penanaman pohon di Politeknik Kelautan Bolok Kupang mengatakan, paparan Covid-19 di Kota Kupang makin luas.

Herman Man menyebut kondisi ini terjadi karena masyarakat sudah tidak disiplin, pesta makin banyak, kerumunan tidak terhindarkan,.

“Sebentar lagi kita akan terapkan PPKM level 3. Memang ini membuat rakyat makin sengsara, tapi apa boleh buat, terpaksa kita buat demi kepentingan publik dan bukan kepentingan pribadi,” kata Herman Man.

“Saya aman, saya sudah vaksinasi dua kali, pergi ke mana-mana pasti saya minum obat daya tahan tubuh dan prokes yang ketat. Tapi bagaimana dengan ekonomi rakyat? Kalau kita terapkan PPKM semua pasar ditutup dan pusat perbelanjaan dihalangi, pesta-pesta dikurangi dan yang jelas orang protes. Oleh karena itu mari kita taat protokol kesehatan secara ketat,” tegas Herman Man.

Menurutnya, meskipun angka kematian rendah dan persentasi vaksinasi secara umum bagus, namun 25 dari 70 persen itu orang dari luar Kota Kupang. Persentase lansia masih di bawah 70 persen dan itu merupakan sumber penularan.

“Saya terapkan PPKM level 3 itu karena penyebaran atau paparan  lokal itu yang sangat berbahaya. Sehingga sekolah pun sudah belajar secara daring atau online dan mungkin sepekan ini kita akan terapkan. Saya sudah perintahkan kepala dinas untuk buat analisis epidemologi, saya pelajari baru kita terapkan PPKM level 3,” kata Herman Man.

Ketika ditanya sebagai dokter, apakah Covid-19 ini dijadikan endemik bukan lagi pandemic, Herman menjawab,  “Semua penyakit bisa endemik, tapi kan kehebohan nasional dan internasional saya harus imbangi juga. Kalau saya bisa Covid-19 ini endemik tapi penerbangan harus PCR dan harus rapid antigen. Masa saya harus diam-diam, saya harus menyesuaikan. Namun pandangan saya sebagai dokter endemik tidak apa-apa karena rumah sakit kita siap, tempat karantina kita siap dan pelayanan kita sangat siap.” (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *