“Brasil, Lagakmu Itu Seni, Namun Sungguhkah Menyakitkan?”

Oleh P. Kons Beo, SVD

 Brasil semakin di trend menggila. Semakin menjadi-jadi dini hari tadi di Stadion 974. The Selecao baru saja melumat Korsel 4 – 1. Sungguh tanpa ampun. Tiada tersisa untuk Korsel.  Benar-benar satu pesta raya bagi seluruh Tim Samba, berikut seluruh fansnya di manca negara.

Bacaan Lainnya

Brasil tetap garang. Namun menawan pula. Setidaknya itulah yang dibuktikan malam tadi. Korsel, yang sudah ‘kecil itu diusirnya pergi dengan tangan hampa.’ Tanpa ada yang tersisa. Tapi, bukan berarti Korsel tanpa juang di laga semalam. Segala kekuatan telah dikerahkan. Namun, sepertinya seluruh area laga ‘hanya ada warna kuning hijau – Brasil.’

Di 36 menit awal babak pertama saja, empat gol sudah tercipta. Gol-gol yang aduhai dengan tingkat akurasi tinggi. Vinicius, Neymar, Richarlison dan Paqueta jadi pahlawan. Brasil bergirang. Tentu sekian jutaan pasang mata dunia menikmatinya.

Sungguh! Sukacita yang tak terkirakan. Yang tambah bikin nyentrik itu ekspresi sukacita setelah bikin setiap gol. Ada goyang-goyang khas para pemain. Juga tertangkap kamera Adenor Leonardo Bacchi, pelatih Brasil, larut dalam sukacita itu. Sepertinya si  Tite itu tak mau sukacita itu hanya milik anak-anak asuhnya saja.

Sepertinya, Brasil, di duel ini, jika ditafsirkan seadanya, ingin sedikit lupakan sejenak tragedi   Maracanazo di 16 Juli 1950 itu. Itulah sejarah teramat kelam sepakbola Brazil.  Tinggal butuh hasil imbang, Brasil malah keok di tangan Uruguay 1 – 2 kala itu. Gagal jadi juara dunia untuk pertama kali. Seantero Brasil dan terutama pendukung fanatik di Stadion Maracanã bungkam total. Jadi sungguh larut dalam rasa malu dan duka nasional.

Ini belum lagi  jika mesti teringat lagi goyang Samba yang sungguh layu 1 – 7 di tangan Der Panzer, Jerman. Di hadapan publik sendiri, di Piala Dunia 2014 itu, Brasil tenggelam dalam ironia Mineirazo. Iya pembantaian di Estadio Mineirao. Lagi-lagi di hadapan publik sendiri.

Bisa terjadi, bertolak dari kenangan pahit itu, Tim Samba belajar untuk  berwaspada di setiap laga berikutnya. Apalagi di level Piala Dunia. Tak boleh satu tim lawan apa pun yang dianggap kecil. Enteng untuk dikalahkan. Tetapi, tidakkah itu gambarkan pula arus hati dan arus hidup manusia?

Terkadang terlalu percaya diri juga sudah jadi awal dari satu bencana. Itu yang dapat ditangkap dari kisah pahit Maracanazo. Namun, di hari-hari di Qatar, Brazil tampaknya sudah berbenah. Tak lengah untuk tidak berujung konyol pada hasil pertandingan, seperti di kisah Mineirazo itu. Tapi, itulah up and down dari sebuah Tim sekelas Brasil. Juga dari jalan hidup setiap anak manusia. Yang penuh dengan light and shadow-nya. Bersinar dan redupnya.

Bagaimana pun ada hal lain yang sepantasnya dimaknai. Ingatlah kembali Tim Samba malam tadi, yang menari-nari di pinggiran lapangan setelah setiap gol tercipta. Itulah ekspresi wajar. Di batas normal dalam sebuah pertandingan.

Mereka pasti tak sedang ‘bikin panas’ atau sepertinya mau ‘ngongi’ (ungkapan orang Ende-Flores, artinya ‘mengejek-ejek’) Timnas Korsel. Atau bikin tambah larut dalam kesedihan fans Korea Selatan. Tidak! Sekali lagi, itulah tanda sukacita. Yang sulit terbendung.

Di titik sebaliknya? Lihatlah para pemain Korsel. Mereka tetap teduh hati. Tak merasa di-ngongi oleh Neymar dkk dengan goyang (Samba) itu. Mereka tetap damai di hati. Tetap jadi petarung demi kemuliaan Negerinya. Apa mungkin kita sanggup belajar dari aura Piala Dunia seperti ini?

Di pertandingan di suatu kampung, jelang Paskah (tiba-tiba saya teringat lagi kisah itu), Tim yang merasa sudah kalah, tanpa harapan lagi untuk sekedar seri, apalagi menang, mulai ‘maen kuda kayu,’ kasar ‘ngeri mati punya.’ Sekedar cari hal agar pertandingan jadi onar. Dan buruknya lagi agar pertandingan dihentikan panitia! Tanpa kejelasan hasil akhirnya.

Pemain lawan yang cetak gol dan ungkapkan kegembiraannya, itu sudah ditafsir sebagai lagak yang bikin panas. Ujung-ujungnya ‘serbu masuk lapangan.’ Wasit yang tidak bersalah jadi sasaran. Dikejar atau ditonjok. Tiang gawang dicabut. ‘Ada baku kejar dan baku sikat di lapangan.’ Hasil akhir pertandingan? Tentu tidak mungkin terbaca di papan skor, tetapi harus dihitung di UGD Rumah Sakit. Berapa yang parah dan berapa yang ringan?

Seorang teman saya yang memang ‘tidak suka Tim Samba – Brasil’ semalam kontak pas setelah pertandingan Brasil vs Korsel berakhir. Dia nonton hanya untuk menanti keajaiban Korsel kuliti Brasil.

Bukannya kagum akan permainan Brasil (itu sudah pasti) teman itu hanya bilang,  “Eja, itu Neymar dengan  dia pu kawan-kawan, kalo di Stadion Marilonga berani dorang (mereka) menari-menari model begitu yang bikin emosi, itu tu berarti kena faò” (bogem).

Ternyata, pertandingan sepakbola, kapan dan di mana saja, tak hanya menuntut kecakapan artistik bermain para pemainnya. Tidak hanya itu. Tetapi, bahwa para fans, para suporter di luar itu mesti cakap pula dalam kontrol emosi. Jika tidak demikian, maka selalu saja ujung onarnya di setiap pertandingan. Selalu ada tragedi yang sungguh merusakkan euforia yang mengasyikkan.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *