Klaim Aset Poktan Desa Teba, Kadis Pertanian TTU: “Segera Kita Amankan”

KEFAMENANU KABARNTT.CO—Dugaan klaim kepemilikan aset Kelompok Tanin (Poktan) Desa Teba, Kecamatan Biboki Tanpah, Kepala Dinas Pertanian Timor Tengah Utara (TTU) memastikan akan segera mengamankan aset itu.

Sebelumnya diberitakan,  aset milik Poktan Melati di  Desa Teba, Kecamatan Biboki Tanpah diduga diklaim Edi Damianus Tahoni, warga Desa Nifunenas, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bacaan Lainnya

Edi diduga kuat mengklaim aset Poktan  berupa traktor dan mesin rontok padi, bantuan dari Dinas Pertanian setempat.

Edi mengklam dan membawa pergi traktor dan mesin rontok padi itu sejak tahun 2019. Kini dua aset kelompok tani Desa Teba ini sudah 3 tahun berada di Desa Nifunenas, Kecamatan Insana Barat.

Merespon klaim itu Kepala Dinas Pertanian TTU, Gregorius Ratrigis, di ruang kerjanya, Kamis  (4/11/2021) siang, memastikan akan segera mengamankan aset milik Poktan  Melati Desa Teba itu.

Gregorius  mengatakan, aset tersebut merupakan pemberian dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian TTU kepada Kelompok Tani, bukan kepada satu orang atau individu.

“Jadi begini, prinsip kita yang pertama, itu hibah untuk kelompok tani, bukan orang-perorangan, bukan hibah untuk individu kita segera amankan,”  tandas Gregorius.

Karena itu, kata Gregorius, terkait aset yang diduga diklaim warga Nifunenas akan segera diamankan di rumah Poktan Melati di Desa T’eba, Biboki Tanpah.

Gregorius  mengatakan,  dirinya sudah memerintahkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)  di Kecamatan Biboki Tanpah untuk memediasi dan segera mengembalikan aset milik Poktan Melati di Desa T’eba.

“Masalah ini yang sudah muat juga di berita saya sudah kontak Pak Markus (PPL).  Dia jawab untuk hari ini (Kamis, 04/11/2021–Red) mediasi dan segera selesaikan,” kata Gregorius.

Gregorius menjelaskan, pada prinsipnya traktor dan rontok padi itu milik kelompok sehingga harus diamankan agar tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

“Kita harus amankan di balai kelompok bukan di dinas. Tapi karena itu kelompok binaan dari pemerintah makanya kita harus membantu supaya orang jangan ribut,” jelas Gregorius.

Selain itu, lanjut Gregorius, hal tersebut juga sangat menyusahkan masyarakat. Dikatakannya anggota kelompok lain akan kewalahan dan susah, pasalnya harus menyewa traktor milik orang lain sedangkan mereka punya traktor kelompok.

“Ini segera kita amankan karena di wilayah Biboki itu wilayah pertanian untuk lahan basah, mereka tadah hujan. Kalau kita tidak bisa atasi sekian ratusan  ribu kita tidak selamatkan, dalam hal ini pengeluaran masyarakat untuk pengolahan tanah. Katakan 20 anggota dia harus keluarkan uang untuk sewa traktor lain lagi,” ucap Gregorius.

Gregorius  menegaskan, klau hari ini tidak ada penyelesaian, dirinya anak turun langsung ke desa untuk cepat menyelesaikan masalah ini.

“Sore ini saya kontak lagi untuk dapat informasi terakhir, kalau memang belum ada informasi saya cari waktu untuk ke sana,” tandas Gregorius.  (siu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *