Episode Natal: Antara Alam Damai dan Air Mata Pilu

“Hati yang jujur adalah anugerah pertama, kepala yang paham adalah yang kedua” (Thomas Jefferson – 1743-1826, Presiden Amerika Serikat ke 3)

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan Lainnya

Yang Tersisa Hanyalah Air Mata

Ratap tangis penuh pilu itu tak terhindarkan. Kisah penuh duka itu sungguh nyata. Matius, si Penginjil, lukiskannya sekian dramatis,  “Terdengar suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Mat 2:18).

Betlehem selamanya tak harus jadi  “tanah Yehuda, dan ia bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, dan dari situ akan tampil seorang pemimpin Israel” (cf Mat 2:6). Betlehem tak mesti selamanya harus jadi “kota roti.” Kota yang membawa nuansa kehidupan surgawi di dunia. Sebab  kota itu tetap jadi sasaran penguasa tiran di Yerusalem.

Di Betlehem sepertinya tak ada lagi suara sorak sorai bala malaekat surgawi. Tak ada lagi kedamaian sejuk di hati para gembala. Tak ada lagi keheningan mistik perjumpaan nyata antara yang ‘ilahi dan insani’ dalam Bayi Suci. Di Betlehem tak ada lagi harapan ceriah. Sebab semuanya telah diseruduk oleh tombak dan mata pedang. Sepertinya, semuanya telah berlalu dalam senyap.

Kisah Maut Tak Terhindarkan

Herodes sungguh gelap mata. Ia memang telah gulita di nurani. Sungguh! Sebuah harga mahal yang harus dipertaruhkan. Saat penguasa tiran itu merasa terperdaya, ketika kebesarannya jadi tak berarti di hadapan tiga majus dari Timur. Sebab, Yerusalem tidak lagi menjadi jalan pulang bagi ketiga ‘orang asing itu.’

Maksud licik Herodes terbaca ketika ia berpura-pura ‘merendah hati’ di hadapan tiga majus dari Timur, Pergi dan selidikilah dengan saksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia” (Mat 2:8).

Tetapi, kuasa ilahi terlampau kuat untuk selidiki itikad kelam Herodes. Petunjuk pasti menuju Betlehem bukanlah peta seram hati Herodes. Bukan pula kepicikan otak dan kepalsuan hati Imam-Imam Kepala dan Ahli-Ahli Taurat. Menuju Betlehem tetaplah berkiblat pada tuntunan langit semesta, “Bintang yang mereka lihat di Timur” (Mat 2:9).

Sayangnya, pada  gilirannya, kelahiran Yesus, Sang Bayi Kudus, Raja Damai, mesti dibayar teramat mahal. “Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah” (Mat 2:16). Tak ada jalan lain selain “anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah sewilayah Bethlehem mesti meregang nyawa oleh kisah teramat tragis itu.”

Tetap Teguh Demi Nilai Kehidupan

Ingin berkiblat pada nilai? Hendak berpayung pada keutamaan? Bersiaplah untuk susuri jalan-jalan penuh terjal. Jalan itu serba tak menentu dan tak pasti. Tantangan demi tantangan pasti dihadapi. Bila Betlehem adalah sentrum nilai-nilai kehidupan, maka untuk mencapainya jalan maut mesti dilewati. Palungan kandang Betlehem ‘tempat Anak itu dibaringkan’  diraih sambil harus melewati alam penuh kepanikan hati tak menentu milik Herodes dan seisi Yerusalem.

Kisah Betlehem kecil teduh yang bermandikan darah tetap menjadi saksi bahwa nilai-nilai kehidupan tetap menjadi tantangan melawan keangkuhan dan kepanikan penguasa. Bayi-bayi Betlehem tak bersalah adalah narasi kepolosan, kebersihan jiwa, ketulusan, sukacita penuh spontan serta kelembutan. Kesegaran isi jiwa seperti itu bercahaya kuat menantang kepalsuan, ketakutan, kekerasan, ketidakadilan, serta aneka penyesatan.

Jalan Orang Yang Lurus Hati

Jalan tiga majus dari Timur itu adalah Jalan Lurus menuju Yang Patut Disembah! Menyembah Yesus adalah proklamasi tegas untuk berkiblat pada alam damai, kebenaran, keadilan, sukacita, kelemahlembutan, serta kasih-persaudaraan. Menyembah Bayi Yesus adalah sebuah pemakluman untuk tidak menyembah ego-diri yang jadi pusat segala kegelapan pilihan hidup.

Menyembah Bayi Suci Yesus berarti sebuah perlawanan tegas terhadap ‘kepuraan-puraan dan berbagai ragam kekerasan bergaya Herodes. ’Tetapi, adakah yang masih kita sembah dan rawati sejadinya? Yang melawan alam palungan kandang penuh kesederhanaan dan damai sejati?

Dunia telah terperangkap untuk menyembah kekuasaan. Telah terhipnotis untuk bersujud pada kekerasan dan kehancuran. Dunia telah terlanjur berorientasi mutlak pada harta dan kemewahan. Dunia telah  ketagihan dalam alam hedonis, yang membuatnya tak berdaya. Dunia telah panik dan jadi tak belajar berhati sejuk demi  teduhnya suasana penuh persaudaraan dan persatuan!

Betlehem Tetaplah Kota Damai

Akhirnya, tak pernah boleh kembali melalui jalan lama. Itulah jalan Herodes. Jalan pulang melalui Yerusalem. Malaekat telah ingatkan tiga majus itu dalam mimpi untuk mengambil jalan lain. Tak boleh mengambil jalan maut itu. Sebab jalan Herodes adalah jalan lama. Jalan itu berkiblat pada kekerasan dan kematian. Menyembah Yesus dan mengalami suasana damai Betlehem tak boleh dirusakkan oleh alam kelam Yerusalem.

Betlehem dan suasana natal adalah alam kelahiran baru. Alam seperti itu berbuah nyata pada cara berpikir dan bertindak pro life dan demi bonum commune. Bila Betlehem adalah gambaran destinasi ziarah hidup dan ziarah iman setiap insan, maka siapapun yang kembali dari ‘suasana Betlehem’ akan menjadi tegas demi berpihak pada nilai kehidupan, cinta damai dan sukacita. Dan tentu bukannya pada kesumpekan dalam hati dan kekerasan.

Maka kini, dari ziarah ke Betlehem, bersama tiga majus dari Timur dan bersama kanak-kanak suci martir, mari kita pulang ke keseharian kita yang nyata. Tak pernah boleh ambil lagi jalan lama berisi maut itu. Rahmat dari palungan Betlehem itu setidaknya, dalam bahasa Thomas Jefersson, telah berbuah dalam hati yang jujur dan isi pikiran yang bening. Dari situ tetaplah bersinar kedamaian. Damai yang terpancar dari palungan Betlehem.

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro, Roma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *