14 Wilayah di Sumba Timur Langganan Kekeringan, Pemda Manfaatkan DAS

WAINGAPU KABARNTT.CO—Kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur  mengakibatkan sebagian besar wilayah kabupaten ini mengalami kekeringan. Bahkan beberapa wilayah mengalami krisis air bersih dan gagal panen.

Ada 14 wilayah di 6 kecamatan yang mengalami kekeringan. Di antaranya Kecamatan Kota,  Kanatang, Hahar, Kambata Mapam Buhang, dan Kecamatan Matawai  Lapau.

Bacaan Lainnya
tonykleden

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Klas III Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur sudah mengeluarkan rilis perkiraan musim hujan di Sumba Timur tahun 2020-2021.

Menurut prakiraan itu  awal musim hujan di Sumba Timur akan terjadi pada periode Desember ke- II, dimulai dari wilayah utara dan selatan Sumba Timur. Sedangkan wilayah bagian tengah Sumba Timur awal musim hujan akan terjadi pada periode Desember ke-1.

Untuk mengantisipasi kekeringan yang terjadi, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur sudah menyalurkan beras cadangan pemerintah kepada masyarakat yang terdampak. Pemerintah juga  menghimbau masyarakat yang berada di daerah aliran sungai agar memanfaatkan air untuk bertani dan mengembangkan tanaman pertanian.

Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, di ruang kerjanya, Selasa (6/10/2020), mengatakan ada beberapa wilayah yang mengalami kekeringan karena curah hujan sangat sedikit.

“Ya kita tidak bilang bahwa kekeringan terjadi rutin setiap tahun di Sumba Timur, tapi faktanya seperti itu, sehingga memang untuk mengantisipasi ini, dari pemda kita optimalkan daerah alirah sungai dengan memanfaatkan pompa yang dibagi kepada semua petani, terutama di pinggir sungai. Sekarang sudah ada wilayah seperti Kadahang yang panen jagung,” jelas Gidion.

Pemerintah, kata Gidion, sudah melakukan antisipasi krisis air bersih melalui penyaluran air bersih melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sumba Timur. Pemerintah juga sudah  menyalurkan beras cadangan pemerintah yang disiapkan per kabupaten mencapai 100 ton.

“Kami sudah melakukan antisipasi dengan penyaluran beras cadangan pemerintah yang disediakan oleh Bulog yang mencapai 100 ton. Itu jatah per kabupaten,  jika kurang kita berkoordinasi dengan gubernur agar memberikan rekomendasi agar ada penambahan. Namun saat ini kami baru menyalurkan 10-20 ton beras dengan kerja sama dengan beberapa pihak untuk penyaluran,” kata Gidion. (np)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *